Sabtu, 31 Oktober 2009

Cerpen Baru

Boneka Lilin


Nina menangis lagi. Sudah seharian ia mengurung diri di kamar. Boneka lilin kesayangan Nina meleleh karena panas. Di ruang tamu Nina terdapat tempat perapian, jadi di waktu dingin, Ibu sering membakar kayu di sana. Dan malapetaka itu terjadi. Tanpa disadari Nina, boneka lilin kesayangannya dekat dengan perapian. Itu merupakan boneka lilin kesayangan Nina. Bentuknya lucu, berhidung panjang mirip Pinokio. Makanya, Nina memberinya nama Pinokio. Selain itu, boneka lilin iu merupakan peninggalan terakhir Ayahnya. Ayah Nina sudah meninggal setahun yang lalu, saat rumah Nina terbakar. Waktu itu Nina dan Ibunya pulang kampung dan hanya ada Ayah sendirian di rumah. Semua patung lilin yang dibuat Ayahnya terbakar dan meleleh. Hanya Pinokiolah yang tersisa dan sekarang juga ikutan meleleh. Hal itu yang membuat Nina sangat sedih. Ibunya sangat cemas, karena anak semata wayangnya belum juga mau keluar untuk mekan malam.

Esok paginya, Nina keluar kamar dengan pakaian sekolah. Badannya sangat lemas, karena kemarin belum makan seharian. Pagi itu, Nina makan dengan murung. Hanya sedikit nasi yang masuk ke dalam perutnya yang kosong melompong. Ibu selalu membujuk Nina agar tidak sedih. Ibu mengatakan akan membelikan boneka lilin yang beru, tapi Nina tak mau karena tak ada boneka lilin sebagus buatan Ayah. Nina prgi sekolah dengan muka yang masam. Teman-temannya sangat bingung melihat sikap Nina. Bukan hanya teman-temannya, Guru-guru yang ada di sekolah juga heran melihat tingkah Nina yang biasanya ceria menjadi murung. Sampai di rumah, Nina langsung memasuki kamar kesayangannya yang diberi cat berwarna biru, karena biru adalah warna kesukaannya. Sewaktu Nina hendak makan ke dapur, baru ia sadari bahwa tak ada seoran pun orang di rumah kecuali dirinya. Nina gak tahu kemana mamanya pergi. Selesai makan, Nina langsung mencudi piring dan meletakkannya di rak piring.

Sewaktu Nita hendak ke kamar mandi, ia melihat gudang dimana Ayahnya membuat boneka lilin. Gudang itu sudah setahun tak dibersihkan Nina. Tanpa pikir panjang, Nina langsung menuju ke gudang tempat Ayahnya mengahbiskan waktu seharian. Nina mendengar suara dari dalam gudang, ia tak tahu suara apa itu. Dengan perlahan, Nina membuka kamar gudang itu dan menghidupkan lampu. Sewaktu Nina menutup pintu dan berbalik, ia sangat kaget malihat boneka lilin yang ada di sana. Nina melihat puluhan bahkan ratusan boneka lilin. Anehnya, mereka tersenyum kepada Nina. Nina seakan bermimpi dan ia mengigau, teryata tidak.

“Si..., siapa kalian?” tanya Nina kaget dan takut.

“Kami boneka lilin yang pernah dibuat oleh Ayahmu,” jawab salah satu boneka lilin yang kecil dan bulan seperti bola.

“Ta..., tapi boneka lilin Ayah semuanya sudah terbakar,” lanjut Nina kaget dan shock.

“Itu benar,” kata boneka lilin yang mirip dengan hewan panda.

“Tapi, kenapa kalian ada disini? Apa yang kalian lakukan?” Nina makin takut. Ia mengira yang ada di depannya adalah hantu.

“Jangan takut, kami adalah boneka lilin yang baik hati. Kami sudah berhutang kepada Ayahmu. Kalau kau ingin tahu kenapa kami hidup lagi, maka ikutlah dengan kami,” sekarang boneka lilin yang berbentuk Jerapah yang bicara kepada Nina.

Pertamanya Nina takut dan ingin segera lari dari sana. Namun, kaki Nina tak mau bergerak malah ingin mengikuti para boneka. Nina terpaksa mengikut saja. Sampailah mereka di depan cermin yang super besar. Cermin itu tak jauh dari tempat Nina berdiri. Ia baru ingat kalau cermin ini pernah dibuat oleh Ayahnya. Nina bingung, kenapa Ayahnya membuat cermin raksasa itu Sang Ayah hanya tersenyum dan mengatakan kalau suatu saat nanti, Nina akan tahu untuk apa cermin itu dibuat. Para boneka lilin sibuk merapatkan sesuatu yang tak diketahui Nina. Setelah selesai rapat, mereka mendekati Nina dan memegang tangan Nina dengan erat. Spontan ia kaget. Boneka lilin yang berbentuk pangeran meminta Nina untuk memejamkan mata. Ia agak sedikit ragu, namun Nina menurut saja. Mereka terus berjalan dan berjalan sampai menembus cermin itu. Setelah tiga langkah mereka berjalan, Para boneka lilin meminta Nina untuk membuka matanya. Saat Nina hendak membuka mata, ia merasa sangat silau. Tempat itu begitu terang. Ini mimpi atau bukan? Nina merasa tempat itu sangat asing baginya. Ia mencoba menggigit lidahnya, mencoba mengatakan kalau ini hanya mimpi. Dan ternyata bukan. Tempat itu begitu indah dan sangat cantik. Seperti surga yang ada di balik cermin. Semua yang ada di tempat itu terbuat dari lilin. Nina melihat berbagai macam boneka lilin dengan aneka bentuk dan warna.

“Tempat apa ini?” kata Nina bingung.

“Inilah tempat kami, Nina,” kata boneka yang berada di pojok belakang. Nina langsung membalikkan badan ke balakang dan memeluk boneka yang bicara kepadanya.

“Pinokio...! kau juga ada disini, aku kangen denganmu. Ternyata kau masih hidup,” teriak Nina senang.

“Iya, Nina. Aku masih hidup. Semua boneka lilin yang meleleh atau terbakar bereikarnasi dan membentuk kehidupan baru di tempat ini, Dunia Lilin,” jelas Pinokio singkat.

“Jadi kau bereinkarnasi disini? Tapi, kenapa semuanya hidup layaknya manusia? Dan kenapa mereka dan kau bisa bicara?” tanya Nina tambah bingung.

“Itu karena kami juga makhluk Tuhan,” jawabnya singkat.

Nina sangat senang dengan kehadiran Pinokio. Pinokio mengajak Nina ke rumah barunya yang dibangun di tepi sungai lilin. Sungai itu terbuat dari lilin cair yang sudah dingin. Di tepi sungai terapat bermacam-macam tumbuhan. Ikan yang ada di dalam sungai juga terbuat dari lilin. Pinokio mengajak Nina berkeliling dunia lilin. Mereka menghabiskan waktu bermain bersama. Nina juga melihat burung yang terbang di langit juga terbuat dari lilin, bahkan batu terkeceil pun juga terbuat dari lilin. Ini ajaib dan sangat aneh. Namun, Nina menikmati keanehan itu dan ia senang. Hari sudah sore dan Nina harus segera pulang. Sebentar lagi ia harus makan malam bersama Ibunya.

“Pinokio, aku harus segera pulang ke rumah. Pasti Ibu sedang cemas memikirkanku. Ia pasti bingung kemana aku pergi,” tutur Nina.

“Oh..., kalau begitu baiklah. Kau akan kuantar sampai di depan cermin,” kata Pinokio.

“Pinokio..., maukah kau ikut denganku ke Dunia Manusia? Aku ingin kita bersama dan selalu bersama,” pinta Nina.

“Maafkan aku, Nina. Bukannya aku tak ingin ikut denganmu, tapi inilah tempatku. Aku sudah mati dan tak bisa ke Dunia Manusia. Kalau aku ke sana, maka dalam kurun waktu 24 jam aku akan meleleh dengan sendirinya dan tak bisa bereinkarnasi lagi,” ucap Pinokio sedikit sedih.

“Lagipula, Nina kan bisa bermain ke sini lagi, jadi kita bisa bertemu lagi,” tambahnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan datang lagi lain waktu,” kata Nina sambil menangis.

Sesampai Nina di depan cermin. Ia memeluk boneka lilin kesayangannya dan pamit kepada boneka lilin lainnya. Nina memejamkan matanya dan berjalan lurus ke arah cermin. Setelah tiga langkah, Nina membuka matanya kembali. Ia melihat ruangan yang tadinya dipenuhi boneka lilin sekarang kosong. Nina langsung menuju ke dapur menengok Ibunya. Ternyata Ibu sedang memasak makanan untuk makan malam. Ibu menoleh dan bertanya kepada Nina, kemana saja anak itu. Nina hanya menjawab kalau ia bermain di gudang belakang tempat Ayahnya membuat boneka lilin. Ibunya sedikit bingung, karena tumben-tumbennya Nina bermain di sana. Nina langsung berlari menuju kamar dan membiarkan Ibunya terdiam untuk beberapa saat.

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda