Cerpen Gara-gara mainan rusak
Gara-gara mainan rusak
Pengumuman libur sekolah sudah membuat Oji tak henti-hentinya merengek seraya menggelayut manja di pundak ayah supaya dibelikan mobil balap remote control seperti milik, Eros, tetangga depan rumah. Sebelum tidur dia selalu naik ke pangkuan ayah dan mengingatkan ayah supaya segera membelikan mobil itu. Meski ayah hanya mengiyakan, toh Oji cukup puas lalu masuk ke kamar tidurnya di sebelah kamar tidur ayah.
Di atas tempat tidur dia bergumam tentang mobil itu seraya membayangkan saat dia benar-benar memilikinya. Dia tidak perlu lagi hanya jadi penonton ketika Eros memamerkan keahliannya mengendalikan mobil berantena seukuran Tamiya dengan pengendali jarak jauh. Mobil itu tidak pernah menabrak benda-benda yang dilewatinya meski melaju dengan kencang. Oji dibuat bengong berkali-kali.
Eros dibelikan mainan itu sebagai hadiah karena menjadi ranking satu di sekolah. Kedua orangtuanya sama sekali tak keberatan menghadiahinya mainan mahal tersebut. Salah seorang teman ayah Eros adalah seorang pemilik toko mainan besar. Semua macam mainan tersedia di sana. Mobil yang dikendalikan dari jarak jauh pun ada macam-macam ukuran. Mulai dari sekecil telapak tangan Eros sampai sebesar tas sekolahnya. Tapi Eros tidak suka mobil yang terlalu besar. Tidak lincah seperti mobil yang seukuran Tamiya.
Apapun yang dikatakan Eros saat memamerkan mobilnya, semakin membuat Oji tidak sabar untuk memiliki mobil-mobilannya sendiri. Alangkah menyenangkan jika dia memegang remote control dan menyalip mobil Eros dari belakang. Dia ingin mobilnya melaju jauh lebih kencang dan membuat Eros tidak perlu selalu membanggakan mainannya yang mahal.
Oji memang tidak bisa meraih ranking pertama di sekolah. Prestasinya tidak sebaik Eros. Nilai-nilainya jauh di bawah Eros. Tidak mungkin bisa merebut gelar Eros sebagai juara umum. Bahkan Oji tidak pernah masuk peringkat sepuluh besar. Tapi nilai-nilainya memang sedikit naik. Terutama pelajaran IPA. Dari nilai rata-rata 6, kali ini di buku rapornya tertulis 7.
Ayah Oji senang dengan kemajuan anaknya. Dia ingin memberikan sebuah hadiah kecil, tapi bukan mobil-mobilan seperti yang Oji minta setiap hari. Sudah banyak mainan yang Oji miliki dan tidak pernah lagi disentuh begitu dia punya mainan baru. Dibiarkan teronggok di kamar bermainnya sampai berlapis debu. Oji tidak mau membersihkannya sebelum dipaksa ayah. Itu pun dilakukannya dengan malas-malasan.
Ayah Oji lebih ingin membelikan beberapa buku bacaan. Akan lebih bermanfaat untuk Oji. Hingga kelas 4 SD, Oji masih juga malas membaca. Setiap hari hanya main bersama teman-temannya. Kalau malam dia hanya membuka buku untuk mengerjakan PR.
Hari pertama libur sekolah. Ayah mengajak Oji jalan-jalan berkeliling kota dengan sepeda motor. Pukul sembilan mereka berangkat. Oji terlihat ceria dan membayangkan akan diajak ke toko mainan untuk memilih mainan yang diinginkan. Dalam pikirannya terbayang sebuah mobil balap berwarna hijau seperti pakaian tentara melaju di jalanan aspal dan berkelok-kelok dengan lincah bahkan bisa melambungi mobil hitam Eros.
Oji duduk di depan ayah. Dia memakai helm dan memegang stang dengan kedua tangan. Hatinya semakin berdebar-debar menunggu kecepatan motor perlahan dikurangi kemudian berhenti di sebuah toko mainan. Sesekali dia menolehkan kepalanya ke belakang untuk bercakap-cakap dengan ayah, lalu kemudian kembali memandang lurus ke depan.
Oji melihat sebuah toko mainan di sebelah kiri jalan. Dari jauh dia bisa mengenali toko mainan itu. Di sanalah Eros membeli mobil balapnya. Toko itu terlihat begitu menonjol dibanding toko-toko di sekitarnya. Oji tidak berkedip sampai tidak menyadari toko itu terlewati begitu saja. Dia menarik jaket ayah namun ayah tetap meneruskan perjalanan. Oji terdiam.
Cukup lama mereka berkeliling. Oji tidak lagi berharap ayah mengajaknya ke toko mainan. Semua toko mainan sudah dilewati. Kini mereka memasuki areal penjualan buku. Ternyata di sinilah motor berhenti. Di sebuah tempat parkir yang hampir penuh. Ayah mengajak Oji masuk ke sebuah kios buku kecil yang dijaga seorang ibu berkacamata tebal.
Ayah menyapa ibu itu dan memperkenalkannya pada Oji. Bu Dara namanya. Bu Dara mengambilkan beberapa buku di rak atas lalu meletakkannya di hadapan Oji. Berbagai buku bacaan tentang mobil. Oji bingung mengapa buku-buku itu diperlihatkan padanya. Dia pun bingung buku mana yang bisa membuatnya terhibur sebab tidak dibelikan mainan. Akhirnya dia menunjuk salah satu buku tanpa melihat judulnya.
Seminggu kemudian Oji mendengar suara Eros memanggil-manggilnya dari luar. Oji berpikir apakah akan menemui Eros atau tidak. Dia sedang asyik dengan buku bacaannya. Ternyata buku itu tidak lain ensiklopedia tentang mobil. Semua jenis mobil ada disana. Sampai bagian-bagian dari mobil juga ada.
Suara panggilan Eros semakin mengusik Oji. Dia pun meletakkan bukunya di atas sofa. Dia berjalan menuju pintu dan memutar kunci. Ketika pintu terbuka, dilihatnya Eros berdiri sambil menggendong mobil-mobilannya. Tampaknya mobil itu rusak. Di bagian depannya terlihat ringsek. Eros mengatakan bahwa mobilnya baru saja jatuh.
Oji mengajak Eros masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di lantai. Mobil-mobilan Eros di tengah-tengah keduanya. Oji melihat bagian yang ringsek dengan senter kecilnya. Dia mengambil obeng kecil yang ada dalam kotak peralatan Eros. Dibukanya bagian itu dan melihat ada bagian yang pecah. Dia memperlihatkannya pada Eros. Oji mengatakan bahwa bagian yang rusak itu harus diganti dengan yang baru agar bisa dipakai kembali.
Eros mengangguk-angguk. Dia kagum dengan kepandaian Oji menemukan sumber kerusakan mobilnya. Dia kemudian tahu bahwa Oji membaca dari sebuah ensiklopedi sehingga dia tidak terlihat keluar rumah berhari-hari. Saking tertariknya Eros dengan buku itu, mereka pun menghabiskan waktu seharian membaca buku. Dia mengangguk-angguk setiap mendapatkan ilmu baru. Eros pun lupa dengan mainan kebanggaannya. Dia membiarkan mobil-mobilannya tergeletak di lantai hingga menjelang sore dan dia pun pulang ke rumah.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda