Cerpen Kesulitan Pita
Kesulitan Pita
Seluruh murid kelas VA tahu kalau Pita jago matematika di kelas itu. Dengan mudah Pita bisa mengerjakan soal-soal yang menurut teman-temannya sangaat sulit. Pita memang senang pelajaran matematika. Dan jika hasil ulangan dibagikan, ia selalu mendapat nilai paling tinggi di kelas. Tidak heran bila sebulan lalu Pita menjadi juara ke II lomba matematika SD sekecamatan.
"Kuncinya adalah rajin mengerjakan soal dan tidak putus asa!"jawabnya ketika ditanya rahasia suksesnya.
Namun...lain halnya dengan pelajaran sejarah. Dalam pelajaran ini Pita sangat ketinggalan dibandingkan dengan teman-temannya. Angka-angka yang diperolehnya tidak sehebat angka matematikanya. Dan hal itulah yang terjadi hari ini. Begitu menerima hasil ulangan sejarahnya, Pita melihat angka lima setengah menghiasi kertas ulangannya.
"Pit, dapat berapa kamu? "tanya Susi teman sebangkunya.
"Biasa, jelek lagi, jelek lagi! Pusing aku!" jawab Pita setengah putus asa.
Susi sendiri mendapat nilai delapan, karena selain menyukai pelajaran sejarah, ia telah mempersiapkan diri dua hari untuk belajar sebelum ulangan. Dan bagi dirinya, sejarah tidaklah sesulit matematika yang membingungkan itu.
Sebenarnya Susi agak prihatin dengan keadaan Pita. Bayangkan, jago matematika di kelas VA, selalu mendapat nilai jelek untuk pelajaran menghapal. Pita pernah bilang padanya bahwa pelajaran menghapal sangat membosankan.
"Buat apa, sih, mengingat tahun-tahun yang sudah lewat! Lagi pula mana ada waktu aku menghapal tahun-tahun. Aku sangat repot di rumah!" ujar Pita pasa Susi. Memang, Pita baru mendapat adik baru, Ia sering mendapat tugas menjaga adiknya yang baru berumur 3 bulan bila ibunya sedang sibuk di dapur.
Pita sebenarnya sudah berusaha untuk belajar lebih giat pada pelajaran yang sifatnya hapalan. Ia berusaha menghapal tahun-tahun bersejarah. Pita tahu, Pak Dibyo, guru sejarahnya hobi memberi soal yang ada tahun-tahunnya. Tetapi walau ia sudah menghapal mati-matian di malam hari, paginya sudah buyar alias lupa. Apalagi kalau sampai tersandung batu di jalan menuju sekolah! Pasti hapalan Pita di kepala langsung hilang.
Ketika sampai di rumah, Susi masih tetap memikirkan kelemahan Pita tersebut. Ia merasa kasihan tapi tak tahu harus berbuat apa. Pita teman akrabnya. Dan Pita sering membantu Susi dalam pelajaran berhitung. Mereka juga sering belajar bersama ketika akan ulangan. Itu sebabnya Susi ingin sekali menolong Pita.
Suatu sore, Susi ingin meminjam tip-ex di kamar Mbak Ika. Kakaknya yang baru masuk kuliah jurusan komunikasi itu sedang melipat-lipat kertas kwarto.
"Buat apa Mbak, melipat-lipat kertas itu?" tanya Susi.
"Mbak sedang membuat ringkasan catatan kuliah. Sebentar lagi, kan, Mbak akan ujian.
"Lalu, untuk apa kertas kwarto yang dilipat-lipat itu?" tanya Susi lagi.
"Oh…, ini Mbak kasih lihat contohnya," kata Mbak Ika sambil membuka laci meja belajarnya. Ia mengeluarkan kertas kuarto yang sudah dilipat tiga seperti brosur-brosur wisata. Ada juga yang dilipat kecil-kecil agar muat di dalam saku bajunya. Kertas-kertas itu ditulisi ringkasan catatan kuliah. Dan yang lebih menarik lagi, Mbak Ika memberikan warna-warna menarik pada setiap judul pelajaran yang diringkas tadi.
"Buat apa diberi warna-warna seperti itu, Mbak?" tanya Susi keheranan.
"Supaya menarik untuk dibaca dan mudah untuk menghapalnya. Susi kan tahu, Mbak tidak suka menghapal pelajaran cuma dalam semalam. Wah, nggak janji bisa hapal! Makanya Mbak buat ringkasan catatan yang dilipat-lipat dan bisa disimpan di saku ini. Jadi dimana pun Mbak berada, di bus, atau saat menunggu sesuatu, ringkasan ini tinggal dibuka! Menghapal sedikit-sedikit akan mudah diingat daripada menghapal sekaligus!" panjang-lebar Mbak Ika menerangkan manfaat ringkasan tersebut.
Susi langsung lupa dengan niatnya semula untuk meminjam tip-ex Mbak Ika. Ia jadi teringat pada Pita… Ah, sepertinya ia telah mendapat jawaban untuk mengatasi kesulitan Pita dalam menghapal pelajaran sejaran. Tidak sabar ia menunggu esok hari untuk bertemu Pita di sekolah. Ia ingin menyampaikan cara Mbak Ika mengatasi kesulitan menghapal pelajaran. Susi berharap, nilai-nilai Pita nantinya akan sebagus nilai matematikanya.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda