Kamis, 05 November 2009

Bunga dari Bunga

Bunga dari Bunga

Sekolah Permata Harapan adalah sekolah yang para muridnya berstatus tidak mampu. Termasuk Kesha, Bintang, Farel, Bunga, dan Gidon. Di sekolah itu, hanya beberapa saja yang dapat membeli buku. Sedangkan yang lainnya hanya mem-foto copy buku milik temannya. Tetapi, kelima sahabat ini tidak mau putus asa.
Setiap hari Sabtu, mereka berlima belajar bersama di rumah Kesha, yang rata-ratanya lumayan pintar. Mereka saling bertukar pengetahuan. Ada yang mengajar, ada pula yang diajar. Kegiatan itu mereka lakukan sejak kelas 2 SD. Setiap pulang, pasti Kesha mencegat Bunga dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang pelajaran yang mereka pelajari.
Karena diantara mereka berlima, yang kurang pintar adalah Bunga, dia juga yang paling tidak mampu. Maka itu, ia selalu dimarahi oleh Kesha jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan darinya. Di sisi lain, Kesha juga menyukai Bunga, karena dia sering memberi cetakan bunga kering yang disukai Kesha. Di rumah Bunga, ia punya banyak tanaman. Bunga mengambil beberapa untuk dikeringkan dan ditumpuk di dalam lembaran buku. Nantinya, bunga itu akan diberikan kepada Kesha. Tentu saja sangat indah, dan tak akan layu.
Sekaran hari Sabtu sore, saatnya 5 sekawan itu belajar bersama. Walaupun hujan membasahi jalan dan membisingkan telinga, semangat belajar mereka selalu ada. Saat itu mereka belajar Matematika. Kesha dibuat kesal karena Bunga sama sekali tidak berkonsentrasi.
“Bunga, jangan melihat ke yang lain. Perhatikan aku! Coba tadi kau sebutkan apa yang ku jelaskan!” kesal Kesha. Tetapi Bunga tetap terdiam.
“Kalau kau tidak mau belajar, lebih baik pulang saja!!” bentak Kesha.
Dan Bunga benar-benar melakukannya. Ia menambil tasnya dan berlari pulang. Mereka berempat dibuatnya kebingungan. “Apa yang terjadi dengan Bunga?”. Di saat itu juga, Kesha menyesali perkataanya tadi. Padahal di luar, hujan tak kunjung berhenti. Ia khawatir akan keadaan Bunga.

Di hari Senin, Bunga tidak masuk sekolah. Kesha mulai takut. Ia takut Bunga tidak masuk karena kejadian hari Sabtu lalu. Kejadian itu terulang sampai hari Jumat. Di hari itu, Bunga mengajak Bintang, Farel, dan Gidon untuk menjenguk Bunga. Tetapi, tiba-tiba speaker pengumuman si sekolah berbunyi.
“Pada hari Kamis, 27 Juli 2006, jam 16.00, sahabat kita, Bunga Tanuwijaya, kelas 5, telah meninggal dunia. Jenazah akan dimakamkan hari ini, jam 13.00, di TPU Purwakarta Raya. Karena itu, hari ini kalian pulang pukul 11.30, karana guru-guru akan ikut dalam pemakaman Bunga Tanuwijaya. Terima kasih.”
Seketika juga, suasana kelas menjadi sepi dan sunyi. Ada yang menangis, ada pula yang hanya terisak. Kesha mulai membayangkan kejadian hari Sabtu lalu. Ia sangat menyesal. Kalau saja ia tidak memarahi Bunga, pasti ini semua tidak akan terjadi…

Sepulang sekolah, mereka berempat datang ke rumah Bunga. Jenazah Bunga sudah siap untuk dibawa. Kesha tak dapat menahan tangisnya. Setelah ibu Bunga melihat Kesha datang, ibunya langsung masuk ke kamar Bunga. Kesha pun ketakutan akan disalahkan oleh ibu Bunga.
Sesaat kemudian, ibu Bunga langsung menghampiri Kesha. Kesha mulai menghindar, tetapi ibu Bunga memegang erat tangannya. Dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar, Kesha mau mendekat dengan ibu Bunga. Ibu dari Bunga langsung menyodorkan sebuah buku yang berisi kumpulan bunga kering milik Bunga. Di situ juga terdapat bunga kamboja kesukaan Kesha yang sudah dikeringkan. Indah sekali. Lalu, ibu Bunga langsung bercerita,
“Kesha, maafkan bibi ya. Bibi tidak sempat untuk memberikan titipan ini. Ini titipan dari Bunga. Sebelum ia tiada, ia berpesan kepada ibu agar kamu menjaga buku ini baik-baik” kata ibu Bunga.
“ngg, bi, kalau boleh tahu, Bunga meninggal karena apa?” Tanya Kesha.
“waktu hari Sabtu, ia pulang dengan badan yang menggigil kedinginan. Mungkin karena kehujanan. Bibi tidak terlalu mempedulikannya. Esoknya, ia berkata kalau ia meriang, badannya panas, kepalanya pusing, mukanya pun pucat. Bibi hanya memberinya obat sakit kepala saja. Bibi tidak membawanya ke rumah sakit. Kejadian itu berlanjut sampai hari Rabu, karena panasnya turun-naik. Pada Kamis pagi, Bibi tidak menyadari kalau Bunga sudah meninggal. Ia tidak bangun dari tidurnya. Bibi kira, ia kecapekan. Setelah agak siang, bibi baru menyadari kalau Bunga sudah tidak bernafas” jelas ibu Bunga sambil terisak.
“maaf Kesha, bibi sudah harus mengantar jenazah Bunga. Jadi bibi tidak bisa mengobrol lama-lama” kata ibu Bunga.
“oh, terima kasih bi. Kesha juga mau pulang” kata Kesha.
Kesha pun pulang dengan lemas. Ia tidak pernah menyangka kalau perkaranya akan menjadi sebesar ini. Kesha memasuki kamarnya. Ia langsung berdoa kepada Tuhan agar Bunga diterima di sisi-Nya. Sesaat kemudian, ia tertidur.
Saat bangun, ia menyadari kalau hari sudah sore. Lalu ia teringat akan buku pemberian Bunga. Ia membuka buku itu. Perlahan, Kesha mulai menitikkan air mata lagi. Lalu ia mengumpulkan semua Bunga pemberian Bunga, dan menempelnya di buku itu. Ia berjanji akan merawat buku itu seumur hidupnya. Karena ia akan selalu mengingat Bunga-Bunga dari Bunga ………


Angelia Gracia Andrean 06/11/2009

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda