Kamis, 05 November 2009

Bunga dari Bunga

Bunga dari Bunga

Sekolah Permata Harapan adalah sekolah yang para muridnya berstatus tidak mampu. Termasuk Kesha, Bintang, Farel, Bunga, dan Gidon. Di sekolah itu, hanya beberapa saja yang dapat membeli buku. Sedangkan yang lainnya hanya mem-foto copy buku milik temannya. Tetapi, kelima sahabat ini tidak mau putus asa.
Setiap hari Sabtu, mereka berlima belajar bersama di rumah Kesha, yang rata-ratanya lumayan pintar. Mereka saling bertukar pengetahuan. Ada yang mengajar, ada pula yang diajar. Kegiatan itu mereka lakukan sejak kelas 2 SD. Setiap pulang, pasti Kesha mencegat Bunga dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang pelajaran yang mereka pelajari.
Karena diantara mereka berlima, yang kurang pintar adalah Bunga, dia juga yang paling tidak mampu. Maka itu, ia selalu dimarahi oleh Kesha jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan darinya. Di sisi lain, Kesha juga menyukai Bunga, karena dia sering memberi cetakan bunga kering yang disukai Kesha. Di rumah Bunga, ia punya banyak tanaman. Bunga mengambil beberapa untuk dikeringkan dan ditumpuk di dalam lembaran buku. Nantinya, bunga itu akan diberikan kepada Kesha. Tentu saja sangat indah, dan tak akan layu.
Sekaran hari Sabtu sore, saatnya 5 sekawan itu belajar bersama. Walaupun hujan membasahi jalan dan membisingkan telinga, semangat belajar mereka selalu ada. Saat itu mereka belajar Matematika. Kesha dibuat kesal karena Bunga sama sekali tidak berkonsentrasi.
“Bunga, jangan melihat ke yang lain. Perhatikan aku! Coba tadi kau sebutkan apa yang ku jelaskan!” kesal Kesha. Tetapi Bunga tetap terdiam.
“Kalau kau tidak mau belajar, lebih baik pulang saja!!” bentak Kesha.
Dan Bunga benar-benar melakukannya. Ia menambil tasnya dan berlari pulang. Mereka berempat dibuatnya kebingungan. “Apa yang terjadi dengan Bunga?”. Di saat itu juga, Kesha menyesali perkataanya tadi. Padahal di luar, hujan tak kunjung berhenti. Ia khawatir akan keadaan Bunga.

Di hari Senin, Bunga tidak masuk sekolah. Kesha mulai takut. Ia takut Bunga tidak masuk karena kejadian hari Sabtu lalu. Kejadian itu terulang sampai hari Jumat. Di hari itu, Bunga mengajak Bintang, Farel, dan Gidon untuk menjenguk Bunga. Tetapi, tiba-tiba speaker pengumuman si sekolah berbunyi.
“Pada hari Kamis, 27 Juli 2006, jam 16.00, sahabat kita, Bunga Tanuwijaya, kelas 5, telah meninggal dunia. Jenazah akan dimakamkan hari ini, jam 13.00, di TPU Purwakarta Raya. Karena itu, hari ini kalian pulang pukul 11.30, karana guru-guru akan ikut dalam pemakaman Bunga Tanuwijaya. Terima kasih.”
Seketika juga, suasana kelas menjadi sepi dan sunyi. Ada yang menangis, ada pula yang hanya terisak. Kesha mulai membayangkan kejadian hari Sabtu lalu. Ia sangat menyesal. Kalau saja ia tidak memarahi Bunga, pasti ini semua tidak akan terjadi…

Sepulang sekolah, mereka berempat datang ke rumah Bunga. Jenazah Bunga sudah siap untuk dibawa. Kesha tak dapat menahan tangisnya. Setelah ibu Bunga melihat Kesha datang, ibunya langsung masuk ke kamar Bunga. Kesha pun ketakutan akan disalahkan oleh ibu Bunga.
Sesaat kemudian, ibu Bunga langsung menghampiri Kesha. Kesha mulai menghindar, tetapi ibu Bunga memegang erat tangannya. Dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar, Kesha mau mendekat dengan ibu Bunga. Ibu dari Bunga langsung menyodorkan sebuah buku yang berisi kumpulan bunga kering milik Bunga. Di situ juga terdapat bunga kamboja kesukaan Kesha yang sudah dikeringkan. Indah sekali. Lalu, ibu Bunga langsung bercerita,
“Kesha, maafkan bibi ya. Bibi tidak sempat untuk memberikan titipan ini. Ini titipan dari Bunga. Sebelum ia tiada, ia berpesan kepada ibu agar kamu menjaga buku ini baik-baik” kata ibu Bunga.
“ngg, bi, kalau boleh tahu, Bunga meninggal karena apa?” Tanya Kesha.
“waktu hari Sabtu, ia pulang dengan badan yang menggigil kedinginan. Mungkin karena kehujanan. Bibi tidak terlalu mempedulikannya. Esoknya, ia berkata kalau ia meriang, badannya panas, kepalanya pusing, mukanya pun pucat. Bibi hanya memberinya obat sakit kepala saja. Bibi tidak membawanya ke rumah sakit. Kejadian itu berlanjut sampai hari Rabu, karena panasnya turun-naik. Pada Kamis pagi, Bibi tidak menyadari kalau Bunga sudah meninggal. Ia tidak bangun dari tidurnya. Bibi kira, ia kecapekan. Setelah agak siang, bibi baru menyadari kalau Bunga sudah tidak bernafas” jelas ibu Bunga sambil terisak.
“maaf Kesha, bibi sudah harus mengantar jenazah Bunga. Jadi bibi tidak bisa mengobrol lama-lama” kata ibu Bunga.
“oh, terima kasih bi. Kesha juga mau pulang” kata Kesha.
Kesha pun pulang dengan lemas. Ia tidak pernah menyangka kalau perkaranya akan menjadi sebesar ini. Kesha memasuki kamarnya. Ia langsung berdoa kepada Tuhan agar Bunga diterima di sisi-Nya. Sesaat kemudian, ia tertidur.
Saat bangun, ia menyadari kalau hari sudah sore. Lalu ia teringat akan buku pemberian Bunga. Ia membuka buku itu. Perlahan, Kesha mulai menitikkan air mata lagi. Lalu ia mengumpulkan semua Bunga pemberian Bunga, dan menempelnya di buku itu. Ia berjanji akan merawat buku itu seumur hidupnya. Karena ia akan selalu mengingat Bunga-Bunga dari Bunga ………


Angelia Gracia Andrean 06/11/2009

Label: , , ,

Sabtu, 31 Oktober 2009

Cerpen Anak Penjual Minyak Tanah

Anak Penjual Minyak Tanah

BU Cici menyiapkan jerigen kecil dekat pintu dapur. Persediaan minyak tanah sudah kian menipis. Biasanya si kembar Ferdi dan Andi yang membeli minyak ke warung Pak Tatang sambil berboncengan naik sepeda.

Pukul 12 siang, suara keduanya terdengar dari jauh. Mereka bersenda-gurau meskipun matahari menyengat di luar sana. Keringat membuat wajah keduanya basah. Tapi tak membuat mereka lemas.

Ferdi menyandarkan sepeda di tembok rumah kemudian menyusul Andi masuk ke dalam rumah. Dilihatnya sang ibu mengisi piring dengan nasi. Ferdi ingin cepat-cepat makan, tapi sebelumnya dia harus mengganti seragam sekolahnya.

Si kembar duduk mengelilingi meja makan. Masing-masing di hadapan mereka tersedia sepiring nasi, lauknya tempe goreng dilapisi tepung, dan masih hangat. Sang ibu membelai kepala mereka sebelum Ferdi dan Andi menyantap hidangan sederhana itu.

Ferdi dan Andi memang kelaparan. Apapun lauk yang dimasak ibu mereka selalu terasa nikmat. Memang lauk-pauk yang tersedia hanya telur dan tempe berganti-gantian. Mereka tahu tidak mungkin bisa makan ayam atau ikan. Sesekali saja. Itu jika ibu mereka punya uang lebih dari upah bekerja sebagai buruh cuci.

Ferdi yang lebih tua beberapa menit dari Andi selalu menabung uang jajan dari ibu. Padahal banyak sekali penjual makanan yang mangkal dekat sekolah. Siomay, cireng, es, bakso, dan permen. Seribu rupiah dari ibu disimpannya di bawah koran pelapis sekat lemari pakaiannya. Dalam sebuah amplop buatan sendiri.

Andi sesekali membelanjakan uang jajannya hingga tabungannya tak sebanyak Ferdi. Dia menyimpan sisa uang jajannya di bawah kasur. Dalam bungkusan plastik. Jumlahnya belum pernah dihitung.

Selesai makan, keduanya membawa piring kosong ke dapur. Ferdi dan Andi membagi tugas. Hari ini Ferdi yang menyabuni piring dan adiknya membilas sabun lalu mengeringkan. Tanpa bicara keduanya tahu harus melakukan yang mana.

Semua piring sudah bersih. Mereka berdua masih punya tugas lain yang harus dilakukan. Ferdi mengambil jerigen kosong lalu menyusul adiknya yang menunggu di dekat pagar di atas sepeda. Andi akan membonceng Ferdi menuju rumah Pak Tatang untuk membeli minyak tanah.

Letak rumah Pak Tatang jaraknya jauh dari rumah mereka. Ditempuh hampir 20 menit bersepeda dengan jalan menanjak dan banyak lubang. Tapi Ferdi dan Andi tetap ke sana walaupun tak pernah diberi uang jajan untuk membeli es lilin atau sirup oleh ibu.

Meski terik terasa semakin menyengat kulit. Mereka sampai juga di warung Pak Tatang yang juga sebagai pangkalan minyak tanah. Keduanya melihat antrian panjang orang-orang membawa jerigen seperti mereka. Pak Tatang dan Bu Tatang sibuk melayani para pembeli. Ferdi berharap mereka tidak kehabisan minyak tanah.

Mereka bergantian mengantri di barisan. Andi lebih dulu mengantri. Dia meletakkan jerigen di tanah. Keringat di wajah disekanya dengan punggung tangan kemudian diusapkan ke baju kausnya yang usang dan sudah tak terlihat lagi tulisannya.

Ferdi menepuk pundak Andi. "Aku mau cari bengkel. Ban belakangnya agak gembos." Ujar Ferdi.

Andi mengangguk. Dia melihat Ferdi pergi menjauh dari warung Pak Tatang. Ban yang dimaksud Ferdi memang perlu ditambah angin. Sepeda terasa lebih berat dan membuat kaki lebih cepat pegal.

Ferdi tahu ada bengkel motor sekitar 50 meter dari warung Pak Tatang. Sayang, ketika tiba di sana bengkel itu tutup. Dia tetap mencari tempat lain meskipun jaraknya agak jauh.

Dalam perjalanan Ferdi melihat seorang anak perempuan duduk di jalan seraya memegangi lutut yang berdarah. Mungkin jatuh dari sepeda, pikir Ferdi. Di samping anak itu ada sepeda yang rebah ke jalan.

Ferdi segera menghampiri dan menolong anak itu. Dilihatnya darah sudah berhenti tapi pasti lututnya masih sakit. Menurut cerita Anik, nama anak itu, dia tidak melihat lubang di tengah jalan lalu terjatuh karena hilang keseimbangan.

"Aku mau ke bengkel depan sana," ujar Ferdi lalu menunjuk ban belakangnya yang gembos. Dia melanjutkan, "Titip sepedamu dulu di sana. Setelah itu aku antar kamu pulang biar lukamu dibersihkan."

Anik setuju dengan usul Ferdi. Dengan dibantu teman barunya, dia bangkit kemudian membersihkan roknya yang kotor. Dia berjalan pincang sembari menuntun sepeda sejajar dengan Ferdi. Mereka berjalan pelan-pelan saja.

Angin sepeda Ferdi sudah ditambah. Dia meminta Anik duduk di boncengan dan berpegangan padanya. Sebelum mengayuh pedal dia bertanya, "Rumahmu dimana, Nik?"

Anik menyebutkan alamat rumahnya dan spontan membuat Ferdi heran. "Berarti dekat rumah Pak Tatang? Aku juga mau ke sana menjemput adikku."

"Pak Tatang itu bapakku, Fer." ujar Anik.

Ferdi manggut-manggut. Dia pun mengayuh pedal namun tidak akan mengebut.

Sesampainya di warung Pak Tatang, Ferdi tidak melihat antrian panjang seperti tadi. Ada sebuah tulisan "MINYAK TANAH HABIS!" di atas drum minyak tanah. Jerigen di depan Andi masih kosong. Ferdi lemas. Sering sekali mereka kehabisan minyak tanah. Harganya naik dan susah didapat.

Anik turun dari sepeda lalu menuju ke warung menemui ayahnya yang sedang melayani pembeli.

Ferdi menghela nafas. Mereka lagi-lagi pulang dengan tangan kosong. Diajaknya Andi naik ke sepeda. Dia yang akan membonceng adiknya sampai ke rumah.

"Ferdi! Sini!" panggil Anik dari warung.

Ferdi memandang adiknya lalu turun dan meminta Andi memegang sepeda. Dengan penuh kebingungan dia berjalan ke warung.

"Bawa jeringennya ke sini. Bapak mau ngasih minyak buat kamu." Ujar Anik.

Ferdi tersenyum bahagia. Dia memanggil Andi dan menunjuk jerigen supaya dibawa serta. Ferdi senang bukan main karena mendapatkan minyak tanah dan juga tidak perlu membayar sepeser pun. Itu sebagai balas budi Pak Tatang padanya.

Cerpen Kesulitan Pita

Kesulitan Pita

Seluruh murid kelas VA tahu kalau Pita jago matematika di kelas itu. Dengan mudah Pita bisa mengerjakan soal-soal yang menurut teman-temannya sangaat sulit. Pita memang senang pelajaran matematika. Dan jika hasil ulangan dibagikan, ia selalu mendapat nilai paling tinggi di kelas. Tidak heran bila sebulan lalu Pita menjadi juara ke II lomba matematika SD sekecamatan.
"Kuncinya adalah rajin mengerjakan soal dan tidak putus asa!"jawabnya ketika ditanya rahasia suksesnya.
Namun...lain halnya dengan pelajaran sejarah. Dalam pelajaran ini Pita sangat ketinggalan dibandingkan dengan teman-temannya. Angka-angka yang diperolehnya tidak sehebat angka matematikanya. Dan hal itulah yang terjadi hari ini. Begitu menerima hasil ulangan sejarahnya, Pita melihat angka lima setengah menghiasi kertas ulangannya.
"Pit, dapat berapa kamu? "tanya Susi teman sebangkunya.
"Biasa, jelek lagi, jelek lagi! Pusing aku!" jawab Pita setengah putus asa.
Susi sendiri mendapat nilai delapan, karena selain menyukai pelajaran sejarah, ia telah mempersiapkan diri dua hari untuk belajar sebelum ulangan. Dan bagi dirinya, sejarah tidaklah sesulit matematika yang membingungkan itu.
Sebenarnya Susi agak prihatin dengan keadaan Pita. Bayangkan, jago matematika di kelas VA, selalu mendapat nilai jelek untuk pelajaran menghapal. Pita pernah bilang padanya bahwa pelajaran menghapal sangat membosankan.
"Buat apa, sih, mengingat tahun-tahun yang sudah lewat! Lagi pula mana ada waktu aku menghapal tahun-tahun. Aku sangat repot di rumah!" ujar Pita pasa Susi. Memang, Pita baru mendapat adik baru, Ia sering mendapat tugas menjaga adiknya yang baru berumur 3 bulan bila ibunya sedang sibuk di dapur.
Pita sebenarnya sudah berusaha untuk belajar lebih giat pada pelajaran yang sifatnya hapalan. Ia berusaha menghapal tahun-tahun bersejarah. Pita tahu, Pak Dibyo, guru sejarahnya hobi memberi soal yang ada tahun-tahunnya. Tetapi walau ia sudah menghapal mati-matian di malam hari, paginya sudah buyar alias lupa. Apalagi kalau sampai tersandung batu di jalan menuju sekolah! Pasti hapalan Pita di kepala langsung hilang.
Ketika sampai di rumah, Susi masih tetap memikirkan kelemahan Pita tersebut. Ia merasa kasihan tapi tak tahu harus berbuat apa. Pita teman akrabnya. Dan Pita sering membantu Susi dalam pelajaran berhitung. Mereka juga sering belajar bersama ketika akan ulangan. Itu sebabnya Susi ingin sekali menolong Pita.
Suatu sore, Susi ingin meminjam tip-ex di kamar Mbak Ika. Kakaknya yang baru masuk kuliah jurusan komunikasi itu sedang melipat-lipat kertas kwarto.
"Buat apa Mbak, melipat-lipat kertas itu?" tanya Susi.
"Mbak sedang membuat ringkasan catatan kuliah. Sebentar lagi, kan, Mbak akan ujian.
"Lalu, untuk apa kertas kwarto yang dilipat-lipat itu?" tanya Susi lagi.
"Oh…, ini Mbak kasih lihat contohnya," kata Mbak Ika sambil membuka laci meja belajarnya. Ia mengeluarkan kertas kuarto yang sudah dilipat tiga seperti brosur-brosur wisata. Ada juga yang dilipat kecil-kecil agar muat di dalam saku bajunya. Kertas-kertas itu ditulisi ringkasan catatan kuliah. Dan yang lebih menarik lagi, Mbak Ika memberikan warna-warna menarik pada setiap judul pelajaran yang diringkas tadi.
"Buat apa diberi warna-warna seperti itu, Mbak?" tanya Susi keheranan.
"Supaya menarik untuk dibaca dan mudah untuk menghapalnya. Susi kan tahu, Mbak tidak suka menghapal pelajaran cuma dalam semalam. Wah, nggak janji bisa hapal! Makanya Mbak buat ringkasan catatan yang dilipat-lipat dan bisa disimpan di saku ini. Jadi dimana pun Mbak berada, di bus, atau saat menunggu sesuatu, ringkasan ini tinggal dibuka! Menghapal sedikit-sedikit akan mudah diingat daripada menghapal sekaligus!" panjang-lebar Mbak Ika menerangkan manfaat ringkasan tersebut.
Susi langsung lupa dengan niatnya semula untuk meminjam tip-ex Mbak Ika. Ia jadi teringat pada Pita… Ah, sepertinya ia telah mendapat jawaban untuk mengatasi kesulitan Pita dalam menghapal pelajaran sejaran. Tidak sabar ia menunggu esok hari untuk bertemu Pita di sekolah. Ia ingin menyampaikan cara Mbak Ika mengatasi kesulitan menghapal pelajaran. Susi berharap, nilai-nilai Pita nantinya akan sebagus nilai matematikanya.

Cerpen Muslihat Kerbau

Muslihat Kerbau

Di sebuah desa pinggiran hutan, tinggallah seorang janda dengan anak gadisnya yang cantik. Meski berwajah rupawan, gadis itu amat rendah diri. Ia malu karena warna kulitnya sering berubah-ubah. Kalau duduk di atas rumput, kulitnya menjadi hijau. Kalau makan sawo, kulitnya berwarna coklat. Terkena sinar matahari pagi, kulitnya akan menjadi kuning. Gadis itu paling merasa sedih jika ia berada di tempat gelap. Kulitnya seketika menjadi hitam legam. Karena warna kulitnya sering berubah-ubah, ia dijuluki Putri Warna-Warni.
Prok prok prok! Seluruh penghuni hutan yang hadir bertepuk tangan ketika Raja Umba Singa mengumumkan pemenang sayembara. Raja Umba Singa ingin mengangkat seorang penasejat kerajaan yang cerdik. Ia lalu mengadakan sayembara. Siapa yang menang, berhak mendapatkan kedudukan itu. Tentu saja peminat sayembara itu banyak. Tak ketinggalan Obi Kerbau dan Ucil Kancil.
Pada akhirnya, Ucil Kancil-lah yang keluar menjadi juara. Ia mengalahkan peserta lain termasuk Obi Kerbau.
"Ucil Kancil yang cerdik, kemarilah mendekat," ujar Raja.
"Hambaku Baginda…," Ucil Kancil melangkah menuju singgasana Raja.
"Aku akan memberimu penghargaan atas kecerdikanmu yang telah teruji," Raja Umba Singa melepas mantel beledu merahnya dan dipakaikannya pada Ucil Kancil. "Terimalah mantel ini sebagai tanda gelar kehormatan dariku. Mulai saat ini kau kunobatkan menjadi penasehat kerajaan ini," kata Raja.
"Terima kasih Baginda," Ucil Kancil membungkuk hormat pada sang Raja.
Maka sejak saat itu, resmilah Ucil Kancil menjadi penasehat kerajaan. Seluruh penghuni hutan menyambutnya gembira. Kecuali Obi Kerbau yang merasa iri pada Ucil Kancil. Obi menganggap dirinya yang pantas mendapat kedudukan itu. Sebab tubuhnya lebih besar dan kuat dibanding Ucil Kancil.
"Huh, hewan kecil itu membuatku terhina," sungut Obi Kerbau. "Tunggu saja balasanku!" geramnya.
Obi Kerbau mencari akal untuk membalas sakit hatinya pada Ucil Kancil.
"Ah…, aku tahu," serunya terlonjak kegirangan. "Hanya nenek sihir itu yang dapat membantuku," gumamnya.
Obi lalu pergi ke rumah penyihir tua di lembah Kegelapan. Sesampainya di sana, Obi menceritakan maksud kedatangannya kepada si nenek sihir.
"Nek, saya mohon bantuan Nenek untuk membalas sakit hati saya itu," ujar Obi ketika mengakhiri ceritanya.
"Hihihi, kerbau yang malang! Baiklah, aku akan menolongmu," sahut si nenek sihir lalu melangkah menuju kamarnya. Tak lama kemudian ia keluar lagi membawa dua botol kecil.
"Bawalah ramuan ajaibku. Teteskan ramuan ajaib dalam botol biru ini pada minuman yang akan disuguhkan pada Ucil Kancil. Dan yang berwarna merah ini untukmu," kata nenek sihir sambil menyerahkan kedua botol itu pada Obi Kerbau. "Tapi ingat! Cukup tiga tetes," lanjutnya. "Terima kasih, Nek…," jawab Obi Kerbau lalu mohon diri.
Dengan gembira Obi Kerbau pulang ke rumahnya. Namun di tengah jalan hujan lebat turun. Tak ada tempat untuk berteduh, karena saat itu ia berada di tengah padang rumput luas. Akhirnya, dengan badan basah kuyup Obi Kerbau melanjutkan perjalanannya.
Setibanya di rumah, Obi Kerbau menyimpan kedua botol berisi ramuan ajaib itu di tempat tersembunyi. Obi tidak sadar kalau warna kedua botol itu telah berubah. Yang biru berubah warna menjadi merah, dan yang merah menjadi biru.
Keesokan harinya, Obi pergi ke rumah Ucil Kancil untuk melaksanakan rencana jahatnya. Setibanya disana Obi berkata, "Tuan Penasihat Kerajaan, hamba datang untuk mengundang Tuan pada pesta ulang tahun hamba nanti malam."
"Tentu saja aku akan datang Obi Kerbau," jawab Ucil Kancil.
Malam hari pun tiba. Ucil Kancil datang ke rumah Obi Kerbau.
"Selamat datang tuanku," sambut Obi pura-pura gembira. .
"Ah, dimana undangan yang lainnya...?" tanya Ucil Kancil heran.
"Maaf Tuanku, mereka semua belum datang. Tuankulah yang pertama hadir di sini," jawab Obi. "Sambil menungggu undangan yang lain, silakan Tuan mencicipi makanan dan minuman yang telah hamba siapkan ini," lanjut Obi.
Ucil Kancil melangkah masuk ke rumah Obi Kerbau.
Obi Kerbau masuk ke dapur untuk mengambil dua gelas minuman. Tak lupa ia menuang ramuan ajaib pemberian nenek sihir itu. Yang merah di gelasnya, dan yang biru di gelas Ucil Kancil, "Rasakan pembalasanku, Kancil bodoh...," gumamnya licik.
Tanpa curiga Ucil Kancil menerima gelas minuman dari Obi Kerbau. Minuman itu harum dan mengundang selera. Ucil Kancil meminum minumannya, dan Obi Kerbau meminum minumannya sendiri.
Setelah meminum minuman itu, Ucil Kancil merasa tubuhnya kian segar. Pikiran dan perasaannya pun kian tajam. Lain halnya dengan Obi Kerbau. Setelah meminumnya, kepalanya terasa pusing dan lidahnya kaku.
"Wahai Obi Kerbau, minuman apa ini? Nikmat sekali rasanya," seru Ucil Kancil. "Mooooee…," jawab Obi Kerbau. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi karena lidahnya kaku, yang keluar hanya suara lenguhan.
"Eh, ada apa denganmu, Obi?" Ucil Kancil heran.
Obi tidak menjawab. Karena malu, ia cepat-cepat pergi.
Kejahatan Obi Kerbau akhirnya terbongkar. Nenek Sihir itu bercerita pada Ucil Kancil tentang permintaan Obi Kerbau.
"Kasihan Obi kerbau. Ia termakan kejahatannya sendiri," gumam Kancil.
Sementara itu, Obi Kerbau terus berjalan. Akhirnya seorang petani menemukannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Petani itu lalu merawat Obi Kerbau hingga dia sehat kembali. Obi Kerbau menyesali perbuatannya. Tapi sesal kemudian tiada gunanya.
Sejak saat itu, Obi Kerbau marah sekali bila melihat kain merah. Karena ramuan berwarna merah-lah yang membuatnya jadi seperti itu. Hingga saat ini kerbau akan marah bila melihat kain berwarna merah. Mereka menganggap itulah penyebab kebodohan mereka.

Cerpen Kado Untuk Emak

Kado Untuk Emak

Pagi itu Dawam dan emaknya numpang truk milik Pak Kolil. Mereka berdua akan pergi ke kota. Kebetulan Pak Kolil mengambil pasir di sungai dekat rumah Dawam dan akan dikirim ke kota. Dawam sudah amat akrab dengan sopir truk itu. Pak Kolil adalah langganan tetap Paman Wiro. Sepulang sekolah, Dawam selalu membantu Paman Wiro mencari pasir di sungai, sambil menggembalakan itik.
"Kabarnya kau kemarin ke Jakarta, Wam?" tanya Pak Kolil dalam perjalanan.
"Ya. Mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat tingkat nasional, Pak" jawab Dawam.
"Pamanmu tadi bilang, kau menjuarai lomba itu?"
Dawam tersenyum sambil mengangguk. Emaknya menyahut, "Tentu berkat doa restu Pak Kolil," katanya sambil tersenyum.
"Ha ha ha ha .. syukurlah kau jadi anak pintar. Aku turut bangga," kata sopir truk itu tertawa, "Berapa ratus ribu hadiahnya, Wam?"
"Ah. Tidak begitu banyak, Pak," jawab Dawam. Ia jadi teringat uang disakunya sejumlah seratus lima puluh ribu. Sebagian dari uang itu hadiah lomba di Jakarta, ditambah hasil penjualan telur itik, dan hasil kerja membantu Paman Wiro mencari pasir. Uang itu ia tabung sejak dua tahun lalu. Mudah-mudahan cukup untuk membeli sebuah mesin jahit buat Emak, pikirnya.
Sehari-harinya Emak bekerja membantu menjahit baju di tempat Bu Emi, tetangganya. Itu sebabnya sejak beberapa tahun lalu Dawam sangat ingin membelikan Emak mesin jahit. Agar Emak bisa bekerja mandiri menerima jahitan.
"Wam, kita sudah sampai. Pasir akan kuturunkan disini. Di sebelah itu akan dibangun sebuah bank. Nanti kau bisa menabung di situ," kata Pak Kolil.
"Oh ya, terima kasih, Pak," jawab Dawam.
"Oh ya. Toko Harapan terletak di ujung jalan sana. Bisa naik becak atau jalan kaki," jelas Pak Kolil, karena tadi Dawam mengatakan akan mengantar emaknya ke toko Harapan. "Dan nanti pulangnya sama-sama aku lagi. Kutunggu disini!" Dawam dan Emaknya mengangguk. Mereka lalu berjalan kaki menyusuri trotoar, melewati sebuah universitas. Langkah Dawam tiba-tiba terhenti. Ia menatap emaknya sedang menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya.
"Kenapa, Mak? Emak mabuk naik truk tadi?" tanya Dawam sedikit cemas.
"Tidak. Emak hanya teringat ayahmu. Dulu, ayahmu ikut membangun gedung universitas itu. Apa kau besok juga sempat belajar di situ?" gumam Emak lirih. Ia teringat pada Dawam yang sudah harus bekerja keras membantunya mencari nafkah dan biaya sekolah.
"Entah, Mak," jawab Dawam tertunduk.
Emaknya memang sering bercerita tentang almarhum ayahnya yang seorang tukang batu trampil. Ayah sering diajak para pemborong membangun berbagai gedung di kota. Bahkan Emak juga sering memuji Dawam yang semangat kerjanya mirip sekali dengan Ayah.
"Ayolah, Mak, kita ke toko itu!" Dawam menggandeng tangan emaknya.
Di toko Harapan terdapat berbagai merk mesin jahit. Dari yang harganya murah hingga yang paling mahal. Mereka berdua akhirnya memilih mesin jahit bermerk Butterfly. Seperti milik Bu Emi yang biasa dipakai Emak setiap hari.
"Ini kado ulang tahun buat Emak. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur," kata Dawam menyalami emaknya.
Wanita itu kaget. Ia baru ingat kalau hari itu bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 47. Diusapnya rambut Dawam dengan penuh kasih sayang. Hampir saja air matanya jatuh karena haru.
"Barangnya nanti sore akan diantar, Dik," ujar petugas toko saat Dawam membayar di kasir. Langkah Dawam terasa begitu ringan saat keluar dari toko itu. Hatinya lega karena apa yang diinginkannya selama ini sudah tercapai. Jika saja ia tidak rajin belajar dan memenangkan lomba di Jakarta, keinginan itu tentu masih tertunda entah berapa tahun lagi.
Dalam hati Dawam berkali-kali mengucap syukur kepada Tuhan. Karena kemurahanNyalah ia bisa memberikan kado pada emaknya. Semoga dengan kado mesin jahit itu emaknya bisa bekerja mandiri, seperti pesan almarhum ayahnya sebelum meninggal.
"Lho? Kau beli apa, Wam? Kok tidak bawa apa-apa?" tanya Pak Kolil yang sudah cukup lama menunggu mereka berdua.
"Ini, Pak Kolil. Dawam kan membelikan aku mesin jahit," kata emaknya menjelaskan, "Nanti mesinnya diantar petugas toko itu ke rumah".
"Ha ha ha ha ... bagus, Wam. Biar emakmu besok buka usaha jahitan di rumah," Pak Kolil tertawa senang.
Dawam tersenyum. Mereka kemudian menuju ke truk yang sudah kosong muatannya karena pasir telah diturunkan. Pak Kolil membuka pintu truknya dan mengambil dua bungkusan yang terletak di depan stir.
"Wam, aku juga turut bangga atas prestasimu memenangkan lomba di Jakarta. Nah, ini sepatu dan tas sekolah sebagai kenang-kenangan untukmu. Tetaplah rajin belajar dan selalu membantu emakmu!" kata Pak Kolil sambil menepuk bahu Dawam.
"Terima kasih, Pak," ujar Dawam.
Pak Kolil memang menganggap Dawam seperti anak sendiri. Pak Kolil pernah bercerita tentang Zulham, anak satu-satunya. Jika saja anak itu dikaruniai umur panjang, sekarang pasti sudah sebaya dengan Dawam. Sayang Zulham waktu masih kecil menderita polio hingga akhirnya meninggal. Sampai sekarang Pak Kolil belum dikaruniai lagi seorang anak pun.
Truk itupun kemudian beranjak perlahan-lahan berjalan meninggalkan kota.

Cerpen BAKSO SOLO BU BARIYAH

BAKSO SOLO BU BARIYAH

Bakso Solo Bu Bariyah memang sedap. Tak heran kalau pelanggannya banyak. Biasanya mereka saling mengajak teman. Dan kalau sudah mencicipi bakso Bu Bariyah yang menggoyang lidah itu, dijamin pasti kembali lagi.
Rasa sedap itu menjadi alasan utama Akri menjadi pelanggan. Tetapi ada alasan lain yang membuat Akri selalu menunggu kedatangan Bu Bariyah membuka warung. Bu Bariyah mudah dikibuli.
Kalau Akri mengambil lima butir telur puyuh, cukup mengatakan dua. Jadi, bisa makan enak, bayar murah. Aksi mengibuli Bu Bariyah itu tak pernah tertangkap. Aman-aman saja. Akri tahu, dua mata Bu Bariyah sudah rabun, tidak begitu teliti mengawasi dagangannya. Akri bisa kenyang jajan di sana.
Sudah satu minggu ini warung bakso Bu Bariyah tutup. Akri jadi kelimpungan. Hobinya makan bakso terpaksa terpenggal beberapa hari ini.
Suatu hari, Akri nekat makan bakso di warung lain. Tetapi uh…harganya ternyata minta ampun mahalnya. Dua kali lipat dibanding bakso Bu Bariyah. Lagi pula Akri tak bisa mencomot telur puyuh diam-diam. Penjualnya selalu melirik setiap suapan Akri. Ia jadi tak berkutik. Bakso yang rasanya biasa-biasa saja itu jadi semakin tak enak. Ketika keluar warung itu, Akri bersungut-sungut.
"Huh! Uangku habis untuk makan bakso. Coba kalau warung bakso Bu Bariyah buka…"
Kerinduan Akri akan bakso Bu Bariyah sudah tak terbendung. Sekarang sudah 10 hari warung bakso Bu Bariyah tutup.
"Nanti sore jadi kan, Kri?!" Suara Aan membuyarkan semangkok bakso Solo Bu Bariyah dalam lamunan Akri.
"Eh-oh…I-iya, dong! Nanti sore, berkumpul di sini!"
Ibu Tutik Suidah beberapa hari sakit. Beberapa kali Tutik tidak masuk sekolah karena harus bergantian dengan adiknya menunggui Ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal. Hari ini anak-anak sepakat mengunjungi ibu Tutik. Tutik anak yang baik dan ramah. Semua anak suka padanya.
"Kamu ketua kelas yang baik, Kri !" kata Tutik sambil tersenyum memandang Akri.
"Ah, aku kan hanya mengkoordinasi teman-teman. Merekalah yang patut diacungi jempol, karena sangat memperhatikan kamu," balas Akri sambil meringis. Diam-diam Akri bangga juga dipuji Tutik.
"Orang baik selalu mengelak kalau dikatakan baik," sahut Tutik.
Wajah Akri jadi merah. Dia tampak tersipu-sipu menerima pujian itu.
Sore itu lima anak sebagai perwakilan kelas bersepeda ke rumah Tutik. Rumahnya sangat sederhana. Dindingnya dari bambu yang sudah lusuh.
"Sepi sekali, Tut. Ibumu tidur?" Tanya Akri ketika sudah duduk di dalam.
"Ada di kamar. Ibu sudah menunggu kalian. Aku tadi sudah bercerita kalau kalian akan datang. Yuk, masuk!" ajak Tutik.
Ketika mereka masuk ke kamar ibu Tutik, Akri terjingkat. Di tempat tidur kayu itu ibu Tutik berbaring lemah. Beliau langsung tersenyum ketika melihat Akri.
"Ini temanmu Tut? Dia pelanggan Ibu yang sangat setia," kata Ibu Tutik sambil menunjuk Akri.
Akri jadi salah tingkah. Ternyata ibu Tutik adalah Bu Bariyah! Akri tertunduk malu. Sedih rasanya kalau ingat lima butir telur puyuh yang selalu dikunyahnya dengan nikmat. Akri tak berani memandang Bu Bariyah.
"Segera sembuh, Bu," kata Akri. Lalu dia menyambung dalam hati. Aku akan mengumpulkan uang saku untuk membayar telur-telur yang diam-diam kuambil. Entah berapa jumlahnya.

Cerpen Lari Kepagian

Lari Kepagian

Kukuruyuuuuuuk…..!!
"Oaaaaaheemmm….!" Piyun menguap. Kokok ayam jantan itu membangunkannya. Berarti sudah pagi. Ia mengintip dari balik tirai jendela. Di luar masih gelap. Hari Minggu pagi. Waah, asyik untuk lari pagi. Piyun menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu memakai sepatu olah raga.
Brr..! Cuaca di luar sangat dingin. Piyun melakukan senam pemanasan. Setelah badannya terasa agak hangat, ia mulai lari pagi.
Jalanan kampung masih sepi. Piyun berlari seorang diri. Jantungnya berdetak kencang. Berarti peredaran darah di tubuhnya lancar. Keringat pun mulai mengalir.
"Aneh, biasanya setiap hari Minggu banyak orang lari pagi. Tapi sekarang tak seorang pun yang terlihat," kata Piyun dalam hati. Tapi ia tak begitu peduli.
Piyun berbelok menuju ke jalan setapak yang melintasi sebuah kebun. Keadaam masih gelap gulita. Rasa heran Piyun muncul lagi. Sudah setengah jam ia berlari, tapi matahari belum muncul juga.
"Jangan-jangan masih malam. Aduuh, kenapa tadi aku tidak melihat jam dulu yaa?" Piyun menepuk dahinya. Ia menghentikan larinya. Tiba-tiba ia merasa takut. Bulu tengkuknya berdiri. Keringat dingin mulai membasahi. Ia memang bukan penakut. Tapi seorang diri di kebun yang gelap begini, siapa tahaan?
Belum hilang rasa takutnya, samar-samar Piyun melihat sebuah bayangan hitam bergerak-gerak di depan. Semakin lama bayangan itu semakin jelas. Bayangan itu berbentuk manusia yang berjalan bungkuk dan mengendong sesuatu di punggungnya. Bayangan itu berjalan menuju ke arahnya!
Piyun menahan napas. Rasa takutnya semakin jadi. Ia diam terpaku.
"Tak salah lagi. Itu pasti hantu bungkuk yang menunggu kebun ini, seperti cerita teman-teman," kata Piyun dalam hati. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa berat. Sementara bayangan hitam itu semakin mendekat!
Piyun bingung dan takut. Tanpa pikir panjang ia memungut sebutir batu kerikil dan melempar ke arah bayangan hitam itu.
Bukkk…!! Lemparannya tepat mengenai sasaran.
"Aduuh!" bayangan hitam itu mengaduh. Suaranya kecil, seperti suara seorang nenek. "Siapa yang berani kurang ajar melemparku, yaaa?"
Fiuuuh!! Piyun menarik napas lega. Bayangan hitam itu mengaduh kesakitan. Berarti bukan hantu. Piyun berlari menghampiri bayangan hitam itu.
Piyun terkejut. Ternyata itu Nenek Ranta, penjual kue serabi langganan Piyun. Setiap pagi Nenek Ranta berjualan kue serabi di pertigaan jalan kampung.
"Ooh, jadi kamu yang meleparku yaa?" ujar Nenek Ranta.
"Maaf, Nek. Aku keliru. Ada yang sakit, Nek?" tanya Piyun.
"Untung yang kamu lempar itu kerikil. Kalau batu, bisa pingsan aku," jawab Nenek Ranta. "He, Piyun! Sedang apa kamu dini hari sendiri di kebun ini?"
"Aku sedang lari pagi, Nek," jawab Piyun.
"Kamu ini ada-ada saja. Masih jam tiga dini hari sudah lari pagi," kata Nenek Ranta sambil terkekeh.
"Jam tiga, Nek?" Piyun terbelalak.
"Iya. Kamu bukan lari pagi, tapi lari kepagian! He..he…he…!" Nenek Ranta terkekeh lagi. Piyun menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hee, jangan bengong!" Nenek Ranta menepuk pundak Piyun. "Sebagai hukuman, kamu harus membawa tempayanku sampai di pertigaan jalan kampung!"
"Baik, Nek!" Piyun mengangguk.
Nenek Ranta menurunkan tempayan di gendongannya. Tempayan itu berisi adonan kue serabi. Piyun memanggul tempayan itu dan berjalan mengikuti Nenek Ranta.
"Jam berapa Nenek Ranta berangkat dari rumah?" tanya Piyun.
"Jam setengah tiga!" jawab Nenek Ranta.
"Setiap pagi?"
"Setiap pagi."
"Tidak ngantuk, Nek?"
"Aku sudah terbiasa sejak muda. Tidak seperti anak muda jaman sekarang, suka malas-malasan."
Sampai di persimpangan jalan kampung, mereka berhenti. Piyun menurunkan tempayan yang dipanggulnya. Nenek Ranta membuat tungku dari tumpukan batu bata. Piyun membantu menyalakan api. Setelah api menyala, Nenek Ranta mulai membuat kue serabi.
"Kamu tunggu saja di sini, Yun," kata Nenek Ranta.
"Baik, Nek," Piyun mengangguk. Ia berjongkok di belakang Nenek Ranta, sambil memperhatikan cara membuat kue serabi.
Terdengar beduk Subuh. Piyun terseyum sendiri. Ternyata ia memang bangun terlalu pagi. Ia berlari pagi saat orang-orang masih tertidur lelap.
Keadaan berangsur-angsur terang. Orang-orang mulai banyak yang lari pagi. Sebagian ada yang membeli kue serabi. Piyun ikut membantu melayani.
Ketika mau pamit, Nenek Ranta memberi sepuluh biji kue serabi. Tentu saja Piyun senang sekali.
Sampai di rumah, ternyata Ayah, Ibu dan adik sedang ribut mencarinya.
"Dari mana saja kamu, Yuun?" tanya Ayah.
"Piyun baru lari, Yah," jawab Piyun.
"Lari pagi atau lari kepagian?" tanya Ayah lagi.
Piyun cuma garuk-garuk kepala.
"Bungkusan apa yang kamu bawa itu?" tanya Ibu.
"Kue serabi, Bu."
"Keu serabi?" Ayah, Ibu terheran-heran. Lalu Piyun menceritakan semuanya. Tentu saja Ayah, Ibu dan adik tertawa mendengar cerita Piyun.
"Ternyata lari kepagian itu sangat menguntungkan. Selain badan sehat, juga mendapat kue serabi!" kata Ayah sambil tertawa tergelak.
"Semua itu gara-gara ayam berkokok terlalu pagi. Jadi Piyun terbangun," ujar Piyun.