Sabtu, 31 Oktober 2009

Cerpen Anak Penjual Minyak Tanah

Anak Penjual Minyak Tanah

BU Cici menyiapkan jerigen kecil dekat pintu dapur. Persediaan minyak tanah sudah kian menipis. Biasanya si kembar Ferdi dan Andi yang membeli minyak ke warung Pak Tatang sambil berboncengan naik sepeda.

Pukul 12 siang, suara keduanya terdengar dari jauh. Mereka bersenda-gurau meskipun matahari menyengat di luar sana. Keringat membuat wajah keduanya basah. Tapi tak membuat mereka lemas.

Ferdi menyandarkan sepeda di tembok rumah kemudian menyusul Andi masuk ke dalam rumah. Dilihatnya sang ibu mengisi piring dengan nasi. Ferdi ingin cepat-cepat makan, tapi sebelumnya dia harus mengganti seragam sekolahnya.

Si kembar duduk mengelilingi meja makan. Masing-masing di hadapan mereka tersedia sepiring nasi, lauknya tempe goreng dilapisi tepung, dan masih hangat. Sang ibu membelai kepala mereka sebelum Ferdi dan Andi menyantap hidangan sederhana itu.

Ferdi dan Andi memang kelaparan. Apapun lauk yang dimasak ibu mereka selalu terasa nikmat. Memang lauk-pauk yang tersedia hanya telur dan tempe berganti-gantian. Mereka tahu tidak mungkin bisa makan ayam atau ikan. Sesekali saja. Itu jika ibu mereka punya uang lebih dari upah bekerja sebagai buruh cuci.

Ferdi yang lebih tua beberapa menit dari Andi selalu menabung uang jajan dari ibu. Padahal banyak sekali penjual makanan yang mangkal dekat sekolah. Siomay, cireng, es, bakso, dan permen. Seribu rupiah dari ibu disimpannya di bawah koran pelapis sekat lemari pakaiannya. Dalam sebuah amplop buatan sendiri.

Andi sesekali membelanjakan uang jajannya hingga tabungannya tak sebanyak Ferdi. Dia menyimpan sisa uang jajannya di bawah kasur. Dalam bungkusan plastik. Jumlahnya belum pernah dihitung.

Selesai makan, keduanya membawa piring kosong ke dapur. Ferdi dan Andi membagi tugas. Hari ini Ferdi yang menyabuni piring dan adiknya membilas sabun lalu mengeringkan. Tanpa bicara keduanya tahu harus melakukan yang mana.

Semua piring sudah bersih. Mereka berdua masih punya tugas lain yang harus dilakukan. Ferdi mengambil jerigen kosong lalu menyusul adiknya yang menunggu di dekat pagar di atas sepeda. Andi akan membonceng Ferdi menuju rumah Pak Tatang untuk membeli minyak tanah.

Letak rumah Pak Tatang jaraknya jauh dari rumah mereka. Ditempuh hampir 20 menit bersepeda dengan jalan menanjak dan banyak lubang. Tapi Ferdi dan Andi tetap ke sana walaupun tak pernah diberi uang jajan untuk membeli es lilin atau sirup oleh ibu.

Meski terik terasa semakin menyengat kulit. Mereka sampai juga di warung Pak Tatang yang juga sebagai pangkalan minyak tanah. Keduanya melihat antrian panjang orang-orang membawa jerigen seperti mereka. Pak Tatang dan Bu Tatang sibuk melayani para pembeli. Ferdi berharap mereka tidak kehabisan minyak tanah.

Mereka bergantian mengantri di barisan. Andi lebih dulu mengantri. Dia meletakkan jerigen di tanah. Keringat di wajah disekanya dengan punggung tangan kemudian diusapkan ke baju kausnya yang usang dan sudah tak terlihat lagi tulisannya.

Ferdi menepuk pundak Andi. "Aku mau cari bengkel. Ban belakangnya agak gembos." Ujar Ferdi.

Andi mengangguk. Dia melihat Ferdi pergi menjauh dari warung Pak Tatang. Ban yang dimaksud Ferdi memang perlu ditambah angin. Sepeda terasa lebih berat dan membuat kaki lebih cepat pegal.

Ferdi tahu ada bengkel motor sekitar 50 meter dari warung Pak Tatang. Sayang, ketika tiba di sana bengkel itu tutup. Dia tetap mencari tempat lain meskipun jaraknya agak jauh.

Dalam perjalanan Ferdi melihat seorang anak perempuan duduk di jalan seraya memegangi lutut yang berdarah. Mungkin jatuh dari sepeda, pikir Ferdi. Di samping anak itu ada sepeda yang rebah ke jalan.

Ferdi segera menghampiri dan menolong anak itu. Dilihatnya darah sudah berhenti tapi pasti lututnya masih sakit. Menurut cerita Anik, nama anak itu, dia tidak melihat lubang di tengah jalan lalu terjatuh karena hilang keseimbangan.

"Aku mau ke bengkel depan sana," ujar Ferdi lalu menunjuk ban belakangnya yang gembos. Dia melanjutkan, "Titip sepedamu dulu di sana. Setelah itu aku antar kamu pulang biar lukamu dibersihkan."

Anik setuju dengan usul Ferdi. Dengan dibantu teman barunya, dia bangkit kemudian membersihkan roknya yang kotor. Dia berjalan pincang sembari menuntun sepeda sejajar dengan Ferdi. Mereka berjalan pelan-pelan saja.

Angin sepeda Ferdi sudah ditambah. Dia meminta Anik duduk di boncengan dan berpegangan padanya. Sebelum mengayuh pedal dia bertanya, "Rumahmu dimana, Nik?"

Anik menyebutkan alamat rumahnya dan spontan membuat Ferdi heran. "Berarti dekat rumah Pak Tatang? Aku juga mau ke sana menjemput adikku."

"Pak Tatang itu bapakku, Fer." ujar Anik.

Ferdi manggut-manggut. Dia pun mengayuh pedal namun tidak akan mengebut.

Sesampainya di warung Pak Tatang, Ferdi tidak melihat antrian panjang seperti tadi. Ada sebuah tulisan "MINYAK TANAH HABIS!" di atas drum minyak tanah. Jerigen di depan Andi masih kosong. Ferdi lemas. Sering sekali mereka kehabisan minyak tanah. Harganya naik dan susah didapat.

Anik turun dari sepeda lalu menuju ke warung menemui ayahnya yang sedang melayani pembeli.

Ferdi menghela nafas. Mereka lagi-lagi pulang dengan tangan kosong. Diajaknya Andi naik ke sepeda. Dia yang akan membonceng adiknya sampai ke rumah.

"Ferdi! Sini!" panggil Anik dari warung.

Ferdi memandang adiknya lalu turun dan meminta Andi memegang sepeda. Dengan penuh kebingungan dia berjalan ke warung.

"Bawa jeringennya ke sini. Bapak mau ngasih minyak buat kamu." Ujar Anik.

Ferdi tersenyum bahagia. Dia memanggil Andi dan menunjuk jerigen supaya dibawa serta. Ferdi senang bukan main karena mendapatkan minyak tanah dan juga tidak perlu membayar sepeser pun. Itu sebagai balas budi Pak Tatang padanya.

Cerpen Kesulitan Pita

Kesulitan Pita

Seluruh murid kelas VA tahu kalau Pita jago matematika di kelas itu. Dengan mudah Pita bisa mengerjakan soal-soal yang menurut teman-temannya sangaat sulit. Pita memang senang pelajaran matematika. Dan jika hasil ulangan dibagikan, ia selalu mendapat nilai paling tinggi di kelas. Tidak heran bila sebulan lalu Pita menjadi juara ke II lomba matematika SD sekecamatan.
"Kuncinya adalah rajin mengerjakan soal dan tidak putus asa!"jawabnya ketika ditanya rahasia suksesnya.
Namun...lain halnya dengan pelajaran sejarah. Dalam pelajaran ini Pita sangat ketinggalan dibandingkan dengan teman-temannya. Angka-angka yang diperolehnya tidak sehebat angka matematikanya. Dan hal itulah yang terjadi hari ini. Begitu menerima hasil ulangan sejarahnya, Pita melihat angka lima setengah menghiasi kertas ulangannya.
"Pit, dapat berapa kamu? "tanya Susi teman sebangkunya.
"Biasa, jelek lagi, jelek lagi! Pusing aku!" jawab Pita setengah putus asa.
Susi sendiri mendapat nilai delapan, karena selain menyukai pelajaran sejarah, ia telah mempersiapkan diri dua hari untuk belajar sebelum ulangan. Dan bagi dirinya, sejarah tidaklah sesulit matematika yang membingungkan itu.
Sebenarnya Susi agak prihatin dengan keadaan Pita. Bayangkan, jago matematika di kelas VA, selalu mendapat nilai jelek untuk pelajaran menghapal. Pita pernah bilang padanya bahwa pelajaran menghapal sangat membosankan.
"Buat apa, sih, mengingat tahun-tahun yang sudah lewat! Lagi pula mana ada waktu aku menghapal tahun-tahun. Aku sangat repot di rumah!" ujar Pita pasa Susi. Memang, Pita baru mendapat adik baru, Ia sering mendapat tugas menjaga adiknya yang baru berumur 3 bulan bila ibunya sedang sibuk di dapur.
Pita sebenarnya sudah berusaha untuk belajar lebih giat pada pelajaran yang sifatnya hapalan. Ia berusaha menghapal tahun-tahun bersejarah. Pita tahu, Pak Dibyo, guru sejarahnya hobi memberi soal yang ada tahun-tahunnya. Tetapi walau ia sudah menghapal mati-matian di malam hari, paginya sudah buyar alias lupa. Apalagi kalau sampai tersandung batu di jalan menuju sekolah! Pasti hapalan Pita di kepala langsung hilang.
Ketika sampai di rumah, Susi masih tetap memikirkan kelemahan Pita tersebut. Ia merasa kasihan tapi tak tahu harus berbuat apa. Pita teman akrabnya. Dan Pita sering membantu Susi dalam pelajaran berhitung. Mereka juga sering belajar bersama ketika akan ulangan. Itu sebabnya Susi ingin sekali menolong Pita.
Suatu sore, Susi ingin meminjam tip-ex di kamar Mbak Ika. Kakaknya yang baru masuk kuliah jurusan komunikasi itu sedang melipat-lipat kertas kwarto.
"Buat apa Mbak, melipat-lipat kertas itu?" tanya Susi.
"Mbak sedang membuat ringkasan catatan kuliah. Sebentar lagi, kan, Mbak akan ujian.
"Lalu, untuk apa kertas kwarto yang dilipat-lipat itu?" tanya Susi lagi.
"Oh…, ini Mbak kasih lihat contohnya," kata Mbak Ika sambil membuka laci meja belajarnya. Ia mengeluarkan kertas kuarto yang sudah dilipat tiga seperti brosur-brosur wisata. Ada juga yang dilipat kecil-kecil agar muat di dalam saku bajunya. Kertas-kertas itu ditulisi ringkasan catatan kuliah. Dan yang lebih menarik lagi, Mbak Ika memberikan warna-warna menarik pada setiap judul pelajaran yang diringkas tadi.
"Buat apa diberi warna-warna seperti itu, Mbak?" tanya Susi keheranan.
"Supaya menarik untuk dibaca dan mudah untuk menghapalnya. Susi kan tahu, Mbak tidak suka menghapal pelajaran cuma dalam semalam. Wah, nggak janji bisa hapal! Makanya Mbak buat ringkasan catatan yang dilipat-lipat dan bisa disimpan di saku ini. Jadi dimana pun Mbak berada, di bus, atau saat menunggu sesuatu, ringkasan ini tinggal dibuka! Menghapal sedikit-sedikit akan mudah diingat daripada menghapal sekaligus!" panjang-lebar Mbak Ika menerangkan manfaat ringkasan tersebut.
Susi langsung lupa dengan niatnya semula untuk meminjam tip-ex Mbak Ika. Ia jadi teringat pada Pita… Ah, sepertinya ia telah mendapat jawaban untuk mengatasi kesulitan Pita dalam menghapal pelajaran sejaran. Tidak sabar ia menunggu esok hari untuk bertemu Pita di sekolah. Ia ingin menyampaikan cara Mbak Ika mengatasi kesulitan menghapal pelajaran. Susi berharap, nilai-nilai Pita nantinya akan sebagus nilai matematikanya.

Cerpen Muslihat Kerbau

Muslihat Kerbau

Di sebuah desa pinggiran hutan, tinggallah seorang janda dengan anak gadisnya yang cantik. Meski berwajah rupawan, gadis itu amat rendah diri. Ia malu karena warna kulitnya sering berubah-ubah. Kalau duduk di atas rumput, kulitnya menjadi hijau. Kalau makan sawo, kulitnya berwarna coklat. Terkena sinar matahari pagi, kulitnya akan menjadi kuning. Gadis itu paling merasa sedih jika ia berada di tempat gelap. Kulitnya seketika menjadi hitam legam. Karena warna kulitnya sering berubah-ubah, ia dijuluki Putri Warna-Warni.
Prok prok prok! Seluruh penghuni hutan yang hadir bertepuk tangan ketika Raja Umba Singa mengumumkan pemenang sayembara. Raja Umba Singa ingin mengangkat seorang penasejat kerajaan yang cerdik. Ia lalu mengadakan sayembara. Siapa yang menang, berhak mendapatkan kedudukan itu. Tentu saja peminat sayembara itu banyak. Tak ketinggalan Obi Kerbau dan Ucil Kancil.
Pada akhirnya, Ucil Kancil-lah yang keluar menjadi juara. Ia mengalahkan peserta lain termasuk Obi Kerbau.
"Ucil Kancil yang cerdik, kemarilah mendekat," ujar Raja.
"Hambaku Baginda…," Ucil Kancil melangkah menuju singgasana Raja.
"Aku akan memberimu penghargaan atas kecerdikanmu yang telah teruji," Raja Umba Singa melepas mantel beledu merahnya dan dipakaikannya pada Ucil Kancil. "Terimalah mantel ini sebagai tanda gelar kehormatan dariku. Mulai saat ini kau kunobatkan menjadi penasehat kerajaan ini," kata Raja.
"Terima kasih Baginda," Ucil Kancil membungkuk hormat pada sang Raja.
Maka sejak saat itu, resmilah Ucil Kancil menjadi penasehat kerajaan. Seluruh penghuni hutan menyambutnya gembira. Kecuali Obi Kerbau yang merasa iri pada Ucil Kancil. Obi menganggap dirinya yang pantas mendapat kedudukan itu. Sebab tubuhnya lebih besar dan kuat dibanding Ucil Kancil.
"Huh, hewan kecil itu membuatku terhina," sungut Obi Kerbau. "Tunggu saja balasanku!" geramnya.
Obi Kerbau mencari akal untuk membalas sakit hatinya pada Ucil Kancil.
"Ah…, aku tahu," serunya terlonjak kegirangan. "Hanya nenek sihir itu yang dapat membantuku," gumamnya.
Obi lalu pergi ke rumah penyihir tua di lembah Kegelapan. Sesampainya di sana, Obi menceritakan maksud kedatangannya kepada si nenek sihir.
"Nek, saya mohon bantuan Nenek untuk membalas sakit hati saya itu," ujar Obi ketika mengakhiri ceritanya.
"Hihihi, kerbau yang malang! Baiklah, aku akan menolongmu," sahut si nenek sihir lalu melangkah menuju kamarnya. Tak lama kemudian ia keluar lagi membawa dua botol kecil.
"Bawalah ramuan ajaibku. Teteskan ramuan ajaib dalam botol biru ini pada minuman yang akan disuguhkan pada Ucil Kancil. Dan yang berwarna merah ini untukmu," kata nenek sihir sambil menyerahkan kedua botol itu pada Obi Kerbau. "Tapi ingat! Cukup tiga tetes," lanjutnya. "Terima kasih, Nek…," jawab Obi Kerbau lalu mohon diri.
Dengan gembira Obi Kerbau pulang ke rumahnya. Namun di tengah jalan hujan lebat turun. Tak ada tempat untuk berteduh, karena saat itu ia berada di tengah padang rumput luas. Akhirnya, dengan badan basah kuyup Obi Kerbau melanjutkan perjalanannya.
Setibanya di rumah, Obi Kerbau menyimpan kedua botol berisi ramuan ajaib itu di tempat tersembunyi. Obi tidak sadar kalau warna kedua botol itu telah berubah. Yang biru berubah warna menjadi merah, dan yang merah menjadi biru.
Keesokan harinya, Obi pergi ke rumah Ucil Kancil untuk melaksanakan rencana jahatnya. Setibanya disana Obi berkata, "Tuan Penasihat Kerajaan, hamba datang untuk mengundang Tuan pada pesta ulang tahun hamba nanti malam."
"Tentu saja aku akan datang Obi Kerbau," jawab Ucil Kancil.
Malam hari pun tiba. Ucil Kancil datang ke rumah Obi Kerbau.
"Selamat datang tuanku," sambut Obi pura-pura gembira. .
"Ah, dimana undangan yang lainnya...?" tanya Ucil Kancil heran.
"Maaf Tuanku, mereka semua belum datang. Tuankulah yang pertama hadir di sini," jawab Obi. "Sambil menungggu undangan yang lain, silakan Tuan mencicipi makanan dan minuman yang telah hamba siapkan ini," lanjut Obi.
Ucil Kancil melangkah masuk ke rumah Obi Kerbau.
Obi Kerbau masuk ke dapur untuk mengambil dua gelas minuman. Tak lupa ia menuang ramuan ajaib pemberian nenek sihir itu. Yang merah di gelasnya, dan yang biru di gelas Ucil Kancil, "Rasakan pembalasanku, Kancil bodoh...," gumamnya licik.
Tanpa curiga Ucil Kancil menerima gelas minuman dari Obi Kerbau. Minuman itu harum dan mengundang selera. Ucil Kancil meminum minumannya, dan Obi Kerbau meminum minumannya sendiri.
Setelah meminum minuman itu, Ucil Kancil merasa tubuhnya kian segar. Pikiran dan perasaannya pun kian tajam. Lain halnya dengan Obi Kerbau. Setelah meminumnya, kepalanya terasa pusing dan lidahnya kaku.
"Wahai Obi Kerbau, minuman apa ini? Nikmat sekali rasanya," seru Ucil Kancil. "Mooooee…," jawab Obi Kerbau. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi karena lidahnya kaku, yang keluar hanya suara lenguhan.
"Eh, ada apa denganmu, Obi?" Ucil Kancil heran.
Obi tidak menjawab. Karena malu, ia cepat-cepat pergi.
Kejahatan Obi Kerbau akhirnya terbongkar. Nenek Sihir itu bercerita pada Ucil Kancil tentang permintaan Obi Kerbau.
"Kasihan Obi kerbau. Ia termakan kejahatannya sendiri," gumam Kancil.
Sementara itu, Obi Kerbau terus berjalan. Akhirnya seorang petani menemukannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Petani itu lalu merawat Obi Kerbau hingga dia sehat kembali. Obi Kerbau menyesali perbuatannya. Tapi sesal kemudian tiada gunanya.
Sejak saat itu, Obi Kerbau marah sekali bila melihat kain merah. Karena ramuan berwarna merah-lah yang membuatnya jadi seperti itu. Hingga saat ini kerbau akan marah bila melihat kain berwarna merah. Mereka menganggap itulah penyebab kebodohan mereka.

Cerpen Kado Untuk Emak

Kado Untuk Emak

Pagi itu Dawam dan emaknya numpang truk milik Pak Kolil. Mereka berdua akan pergi ke kota. Kebetulan Pak Kolil mengambil pasir di sungai dekat rumah Dawam dan akan dikirim ke kota. Dawam sudah amat akrab dengan sopir truk itu. Pak Kolil adalah langganan tetap Paman Wiro. Sepulang sekolah, Dawam selalu membantu Paman Wiro mencari pasir di sungai, sambil menggembalakan itik.
"Kabarnya kau kemarin ke Jakarta, Wam?" tanya Pak Kolil dalam perjalanan.
"Ya. Mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat tingkat nasional, Pak" jawab Dawam.
"Pamanmu tadi bilang, kau menjuarai lomba itu?"
Dawam tersenyum sambil mengangguk. Emaknya menyahut, "Tentu berkat doa restu Pak Kolil," katanya sambil tersenyum.
"Ha ha ha ha .. syukurlah kau jadi anak pintar. Aku turut bangga," kata sopir truk itu tertawa, "Berapa ratus ribu hadiahnya, Wam?"
"Ah. Tidak begitu banyak, Pak," jawab Dawam. Ia jadi teringat uang disakunya sejumlah seratus lima puluh ribu. Sebagian dari uang itu hadiah lomba di Jakarta, ditambah hasil penjualan telur itik, dan hasil kerja membantu Paman Wiro mencari pasir. Uang itu ia tabung sejak dua tahun lalu. Mudah-mudahan cukup untuk membeli sebuah mesin jahit buat Emak, pikirnya.
Sehari-harinya Emak bekerja membantu menjahit baju di tempat Bu Emi, tetangganya. Itu sebabnya sejak beberapa tahun lalu Dawam sangat ingin membelikan Emak mesin jahit. Agar Emak bisa bekerja mandiri menerima jahitan.
"Wam, kita sudah sampai. Pasir akan kuturunkan disini. Di sebelah itu akan dibangun sebuah bank. Nanti kau bisa menabung di situ," kata Pak Kolil.
"Oh ya, terima kasih, Pak," jawab Dawam.
"Oh ya. Toko Harapan terletak di ujung jalan sana. Bisa naik becak atau jalan kaki," jelas Pak Kolil, karena tadi Dawam mengatakan akan mengantar emaknya ke toko Harapan. "Dan nanti pulangnya sama-sama aku lagi. Kutunggu disini!" Dawam dan Emaknya mengangguk. Mereka lalu berjalan kaki menyusuri trotoar, melewati sebuah universitas. Langkah Dawam tiba-tiba terhenti. Ia menatap emaknya sedang menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya.
"Kenapa, Mak? Emak mabuk naik truk tadi?" tanya Dawam sedikit cemas.
"Tidak. Emak hanya teringat ayahmu. Dulu, ayahmu ikut membangun gedung universitas itu. Apa kau besok juga sempat belajar di situ?" gumam Emak lirih. Ia teringat pada Dawam yang sudah harus bekerja keras membantunya mencari nafkah dan biaya sekolah.
"Entah, Mak," jawab Dawam tertunduk.
Emaknya memang sering bercerita tentang almarhum ayahnya yang seorang tukang batu trampil. Ayah sering diajak para pemborong membangun berbagai gedung di kota. Bahkan Emak juga sering memuji Dawam yang semangat kerjanya mirip sekali dengan Ayah.
"Ayolah, Mak, kita ke toko itu!" Dawam menggandeng tangan emaknya.
Di toko Harapan terdapat berbagai merk mesin jahit. Dari yang harganya murah hingga yang paling mahal. Mereka berdua akhirnya memilih mesin jahit bermerk Butterfly. Seperti milik Bu Emi yang biasa dipakai Emak setiap hari.
"Ini kado ulang tahun buat Emak. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur," kata Dawam menyalami emaknya.
Wanita itu kaget. Ia baru ingat kalau hari itu bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 47. Diusapnya rambut Dawam dengan penuh kasih sayang. Hampir saja air matanya jatuh karena haru.
"Barangnya nanti sore akan diantar, Dik," ujar petugas toko saat Dawam membayar di kasir. Langkah Dawam terasa begitu ringan saat keluar dari toko itu. Hatinya lega karena apa yang diinginkannya selama ini sudah tercapai. Jika saja ia tidak rajin belajar dan memenangkan lomba di Jakarta, keinginan itu tentu masih tertunda entah berapa tahun lagi.
Dalam hati Dawam berkali-kali mengucap syukur kepada Tuhan. Karena kemurahanNyalah ia bisa memberikan kado pada emaknya. Semoga dengan kado mesin jahit itu emaknya bisa bekerja mandiri, seperti pesan almarhum ayahnya sebelum meninggal.
"Lho? Kau beli apa, Wam? Kok tidak bawa apa-apa?" tanya Pak Kolil yang sudah cukup lama menunggu mereka berdua.
"Ini, Pak Kolil. Dawam kan membelikan aku mesin jahit," kata emaknya menjelaskan, "Nanti mesinnya diantar petugas toko itu ke rumah".
"Ha ha ha ha ... bagus, Wam. Biar emakmu besok buka usaha jahitan di rumah," Pak Kolil tertawa senang.
Dawam tersenyum. Mereka kemudian menuju ke truk yang sudah kosong muatannya karena pasir telah diturunkan. Pak Kolil membuka pintu truknya dan mengambil dua bungkusan yang terletak di depan stir.
"Wam, aku juga turut bangga atas prestasimu memenangkan lomba di Jakarta. Nah, ini sepatu dan tas sekolah sebagai kenang-kenangan untukmu. Tetaplah rajin belajar dan selalu membantu emakmu!" kata Pak Kolil sambil menepuk bahu Dawam.
"Terima kasih, Pak," ujar Dawam.
Pak Kolil memang menganggap Dawam seperti anak sendiri. Pak Kolil pernah bercerita tentang Zulham, anak satu-satunya. Jika saja anak itu dikaruniai umur panjang, sekarang pasti sudah sebaya dengan Dawam. Sayang Zulham waktu masih kecil menderita polio hingga akhirnya meninggal. Sampai sekarang Pak Kolil belum dikaruniai lagi seorang anak pun.
Truk itupun kemudian beranjak perlahan-lahan berjalan meninggalkan kota.

Cerpen BAKSO SOLO BU BARIYAH

BAKSO SOLO BU BARIYAH

Bakso Solo Bu Bariyah memang sedap. Tak heran kalau pelanggannya banyak. Biasanya mereka saling mengajak teman. Dan kalau sudah mencicipi bakso Bu Bariyah yang menggoyang lidah itu, dijamin pasti kembali lagi.
Rasa sedap itu menjadi alasan utama Akri menjadi pelanggan. Tetapi ada alasan lain yang membuat Akri selalu menunggu kedatangan Bu Bariyah membuka warung. Bu Bariyah mudah dikibuli.
Kalau Akri mengambil lima butir telur puyuh, cukup mengatakan dua. Jadi, bisa makan enak, bayar murah. Aksi mengibuli Bu Bariyah itu tak pernah tertangkap. Aman-aman saja. Akri tahu, dua mata Bu Bariyah sudah rabun, tidak begitu teliti mengawasi dagangannya. Akri bisa kenyang jajan di sana.
Sudah satu minggu ini warung bakso Bu Bariyah tutup. Akri jadi kelimpungan. Hobinya makan bakso terpaksa terpenggal beberapa hari ini.
Suatu hari, Akri nekat makan bakso di warung lain. Tetapi uh…harganya ternyata minta ampun mahalnya. Dua kali lipat dibanding bakso Bu Bariyah. Lagi pula Akri tak bisa mencomot telur puyuh diam-diam. Penjualnya selalu melirik setiap suapan Akri. Ia jadi tak berkutik. Bakso yang rasanya biasa-biasa saja itu jadi semakin tak enak. Ketika keluar warung itu, Akri bersungut-sungut.
"Huh! Uangku habis untuk makan bakso. Coba kalau warung bakso Bu Bariyah buka…"
Kerinduan Akri akan bakso Bu Bariyah sudah tak terbendung. Sekarang sudah 10 hari warung bakso Bu Bariyah tutup.
"Nanti sore jadi kan, Kri?!" Suara Aan membuyarkan semangkok bakso Solo Bu Bariyah dalam lamunan Akri.
"Eh-oh…I-iya, dong! Nanti sore, berkumpul di sini!"
Ibu Tutik Suidah beberapa hari sakit. Beberapa kali Tutik tidak masuk sekolah karena harus bergantian dengan adiknya menunggui Ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal. Hari ini anak-anak sepakat mengunjungi ibu Tutik. Tutik anak yang baik dan ramah. Semua anak suka padanya.
"Kamu ketua kelas yang baik, Kri !" kata Tutik sambil tersenyum memandang Akri.
"Ah, aku kan hanya mengkoordinasi teman-teman. Merekalah yang patut diacungi jempol, karena sangat memperhatikan kamu," balas Akri sambil meringis. Diam-diam Akri bangga juga dipuji Tutik.
"Orang baik selalu mengelak kalau dikatakan baik," sahut Tutik.
Wajah Akri jadi merah. Dia tampak tersipu-sipu menerima pujian itu.
Sore itu lima anak sebagai perwakilan kelas bersepeda ke rumah Tutik. Rumahnya sangat sederhana. Dindingnya dari bambu yang sudah lusuh.
"Sepi sekali, Tut. Ibumu tidur?" Tanya Akri ketika sudah duduk di dalam.
"Ada di kamar. Ibu sudah menunggu kalian. Aku tadi sudah bercerita kalau kalian akan datang. Yuk, masuk!" ajak Tutik.
Ketika mereka masuk ke kamar ibu Tutik, Akri terjingkat. Di tempat tidur kayu itu ibu Tutik berbaring lemah. Beliau langsung tersenyum ketika melihat Akri.
"Ini temanmu Tut? Dia pelanggan Ibu yang sangat setia," kata Ibu Tutik sambil menunjuk Akri.
Akri jadi salah tingkah. Ternyata ibu Tutik adalah Bu Bariyah! Akri tertunduk malu. Sedih rasanya kalau ingat lima butir telur puyuh yang selalu dikunyahnya dengan nikmat. Akri tak berani memandang Bu Bariyah.
"Segera sembuh, Bu," kata Akri. Lalu dia menyambung dalam hati. Aku akan mengumpulkan uang saku untuk membayar telur-telur yang diam-diam kuambil. Entah berapa jumlahnya.

Cerpen Lari Kepagian

Lari Kepagian

Kukuruyuuuuuuk…..!!
"Oaaaaaheemmm….!" Piyun menguap. Kokok ayam jantan itu membangunkannya. Berarti sudah pagi. Ia mengintip dari balik tirai jendela. Di luar masih gelap. Hari Minggu pagi. Waah, asyik untuk lari pagi. Piyun menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu memakai sepatu olah raga.
Brr..! Cuaca di luar sangat dingin. Piyun melakukan senam pemanasan. Setelah badannya terasa agak hangat, ia mulai lari pagi.
Jalanan kampung masih sepi. Piyun berlari seorang diri. Jantungnya berdetak kencang. Berarti peredaran darah di tubuhnya lancar. Keringat pun mulai mengalir.
"Aneh, biasanya setiap hari Minggu banyak orang lari pagi. Tapi sekarang tak seorang pun yang terlihat," kata Piyun dalam hati. Tapi ia tak begitu peduli.
Piyun berbelok menuju ke jalan setapak yang melintasi sebuah kebun. Keadaam masih gelap gulita. Rasa heran Piyun muncul lagi. Sudah setengah jam ia berlari, tapi matahari belum muncul juga.
"Jangan-jangan masih malam. Aduuh, kenapa tadi aku tidak melihat jam dulu yaa?" Piyun menepuk dahinya. Ia menghentikan larinya. Tiba-tiba ia merasa takut. Bulu tengkuknya berdiri. Keringat dingin mulai membasahi. Ia memang bukan penakut. Tapi seorang diri di kebun yang gelap begini, siapa tahaan?
Belum hilang rasa takutnya, samar-samar Piyun melihat sebuah bayangan hitam bergerak-gerak di depan. Semakin lama bayangan itu semakin jelas. Bayangan itu berbentuk manusia yang berjalan bungkuk dan mengendong sesuatu di punggungnya. Bayangan itu berjalan menuju ke arahnya!
Piyun menahan napas. Rasa takutnya semakin jadi. Ia diam terpaku.
"Tak salah lagi. Itu pasti hantu bungkuk yang menunggu kebun ini, seperti cerita teman-teman," kata Piyun dalam hati. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa berat. Sementara bayangan hitam itu semakin mendekat!
Piyun bingung dan takut. Tanpa pikir panjang ia memungut sebutir batu kerikil dan melempar ke arah bayangan hitam itu.
Bukkk…!! Lemparannya tepat mengenai sasaran.
"Aduuh!" bayangan hitam itu mengaduh. Suaranya kecil, seperti suara seorang nenek. "Siapa yang berani kurang ajar melemparku, yaaa?"
Fiuuuh!! Piyun menarik napas lega. Bayangan hitam itu mengaduh kesakitan. Berarti bukan hantu. Piyun berlari menghampiri bayangan hitam itu.
Piyun terkejut. Ternyata itu Nenek Ranta, penjual kue serabi langganan Piyun. Setiap pagi Nenek Ranta berjualan kue serabi di pertigaan jalan kampung.
"Ooh, jadi kamu yang meleparku yaa?" ujar Nenek Ranta.
"Maaf, Nek. Aku keliru. Ada yang sakit, Nek?" tanya Piyun.
"Untung yang kamu lempar itu kerikil. Kalau batu, bisa pingsan aku," jawab Nenek Ranta. "He, Piyun! Sedang apa kamu dini hari sendiri di kebun ini?"
"Aku sedang lari pagi, Nek," jawab Piyun.
"Kamu ini ada-ada saja. Masih jam tiga dini hari sudah lari pagi," kata Nenek Ranta sambil terkekeh.
"Jam tiga, Nek?" Piyun terbelalak.
"Iya. Kamu bukan lari pagi, tapi lari kepagian! He..he…he…!" Nenek Ranta terkekeh lagi. Piyun menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hee, jangan bengong!" Nenek Ranta menepuk pundak Piyun. "Sebagai hukuman, kamu harus membawa tempayanku sampai di pertigaan jalan kampung!"
"Baik, Nek!" Piyun mengangguk.
Nenek Ranta menurunkan tempayan di gendongannya. Tempayan itu berisi adonan kue serabi. Piyun memanggul tempayan itu dan berjalan mengikuti Nenek Ranta.
"Jam berapa Nenek Ranta berangkat dari rumah?" tanya Piyun.
"Jam setengah tiga!" jawab Nenek Ranta.
"Setiap pagi?"
"Setiap pagi."
"Tidak ngantuk, Nek?"
"Aku sudah terbiasa sejak muda. Tidak seperti anak muda jaman sekarang, suka malas-malasan."
Sampai di persimpangan jalan kampung, mereka berhenti. Piyun menurunkan tempayan yang dipanggulnya. Nenek Ranta membuat tungku dari tumpukan batu bata. Piyun membantu menyalakan api. Setelah api menyala, Nenek Ranta mulai membuat kue serabi.
"Kamu tunggu saja di sini, Yun," kata Nenek Ranta.
"Baik, Nek," Piyun mengangguk. Ia berjongkok di belakang Nenek Ranta, sambil memperhatikan cara membuat kue serabi.
Terdengar beduk Subuh. Piyun terseyum sendiri. Ternyata ia memang bangun terlalu pagi. Ia berlari pagi saat orang-orang masih tertidur lelap.
Keadaan berangsur-angsur terang. Orang-orang mulai banyak yang lari pagi. Sebagian ada yang membeli kue serabi. Piyun ikut membantu melayani.
Ketika mau pamit, Nenek Ranta memberi sepuluh biji kue serabi. Tentu saja Piyun senang sekali.
Sampai di rumah, ternyata Ayah, Ibu dan adik sedang ribut mencarinya.
"Dari mana saja kamu, Yuun?" tanya Ayah.
"Piyun baru lari, Yah," jawab Piyun.
"Lari pagi atau lari kepagian?" tanya Ayah lagi.
Piyun cuma garuk-garuk kepala.
"Bungkusan apa yang kamu bawa itu?" tanya Ibu.
"Kue serabi, Bu."
"Keu serabi?" Ayah, Ibu terheran-heran. Lalu Piyun menceritakan semuanya. Tentu saja Ayah, Ibu dan adik tertawa mendengar cerita Piyun.
"Ternyata lari kepagian itu sangat menguntungkan. Selain badan sehat, juga mendapat kue serabi!" kata Ayah sambil tertawa tergelak.
"Semua itu gara-gara ayam berkokok terlalu pagi. Jadi Piyun terbangun," ujar Piyun.

Cerpen Jangan Bilang Siapa-Siapa

Jangan Bilang Siapa-Siapa

Pagi itu halaman sekolah masih sepi. Inno, salah satu siswi kelas VB memang sudah terbiasa datang lebih awal. Daun-daun pohon akasia di halaman meneteskan air sisa dari hujan semalam. Tik tik tik…plok!
Ouwh? Betapa terkejutnya Inno ketika sebuah lipatan yang berbentuk persegi, melayang dan menabrak tangannya. Lalu jatuh tepat di tali sepatunya.
"Good morning, Non!" Sapa Pak Ardi, pegawai tata usaha yang mulai sibuk bersih-bersih di belakang mejanya.
"Ah! Pak Ardi, bikin kaget saja. Good morning too," sahut Inno seraya mengambil lipatan kertas itu.
Sambil terus berjalan ke kelas, Inno iseng membuka lipatan kertas itu. Ada tulisan yang terketik rapi di kertas itu. Dibaca, dan dibacanya lagi….
"Oh my God!" Inno bengong. Itu ternyata soal untuk ulangan Matematika minggu depan, kelas….tanggal…waktu… Lho!
"Hello, In. How are you today?" sapa Winna yang baru saja datang.
"Oww, I am fine, fine. Thank's, "Inno memasukkan kertas buram tadi ke dalam tasnya dengan gugup.
"Apa-an itu, In!" tanya Winna ingin tahu.
"Oh ini, sa.. su…surat," jawab Inno semakin gugup.
Untunglah Ewin, Rina dan Pat datang bersamaan dan memasuki kelas. Lalu anak-anak yang lain. Suasana kelas mulai ramai. Winna tidak tertarik lagi pada surat itu. Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Teeet…teeet…
Ketika pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, Inno tidak dapat konsentrasi. Apakah kertas itu masih digunakan? Ah, tidak mungkin. Tadi, kan, Pak Ardi sengaja membuangnya. Inno bingung memikirkan kertas soal ulangan tadi.
Teeet…teeet… Bel istirahat berbunyi.
Teman-teman Inno berlomba pergi ke kantin. Cuma Inno yang malas.
"In, ada apa sih? Sejak tadi kulihat kamu melamun saja," tegur Rita.
Inno menengok ke kiri dan kanan, lalu berkata, "Rit, jangan bilang siapa-siapa ya! Ngg tadi…" Inno ragu-ragu.
"Tadi apa?" tanya Rita penasaran.
Inno akhirnya menceritakan peristiwa pagi tadi. Ia memperlihatkan kertas berisi soal ulangan Matematika tadi pada Rita.
"Haaaa…" setengah tidak percaya Rita memelototi lembar soal itu.
"Hayoo! Dapat bocoran soal ya? Kasih tahu kita-kita, dong!" Sergap Lina dan Resi bersamaan.
Inno dan Rita terkejut melihat mereka muncul tiba-tiba dari belakang.
"Seet! Jangan keras-keras!" seru Rita.
Akhirnya mereka berempat membicarakan soal ulangan matematika itu. Berulang kali Inno mengingatkan untuk tidak memberikan soal itu pada anak lain.
Tapi entah lupa, atau tidak sadar… yah, lidah memang tak bertulang. Suatu hari,
"Eh, Ewin! Kamu mau kuberi info?" Lina menawarkan.
"Info, info apa?" tanya Ewin.
"Ah! Ini menyangkut ulangan besok," jawab Lina serius, lalu memperlihatkan selembar kertas yang penuh berisi salinan soal matematika. "Inno yang menemukan kertas soal itu. Katanya, Pak Ardi tanpa sengaja membuang kertas itu. Tapi awas lho Win…jangan bilang siapa-siapa!"
"Oke-karaoke-lah!" Ewin mengngguk setuju.
Namun begitulah! Walaupun selalu ditekankan "Ingat, jangan bilang siapa-siapa!" ternyata bocoran soal itu terus menjalar dari satu anak ke anak yang lain. Sampai akhirnya seisi kelas mengetahuinya.
Akhirnya tibalah hari ulangan itu.
Guru Immanuel, guru matematika mulai membagikan kertas soal ulangan. Dan, oww! Soal yang mereka terima, sama persis dengan yang telah mereka ketahui sebelumnya.
"Bagai mimpi," ujar Pam.
Di bangku lain, tampak Lulu berulang kali mencubit-cubit pipinya sendiri.
Satu minggu pun berlalu. Kelas VB heboh. Hampir 90% siswa kelas mendapat nilai seratus. Selebihnya mendapat nilai 85 keatas. Pak Immanuel bangga sekaligus bingung. Bangga karena punya anak didik yang pandai-pandai. Dan berarti dirinya telah berhasil mengajar. Namun beliau juga bingung. Sebab, pada ulangan-ulangan sebelumnya, nilai yang tertinggi hanya 72 atau 75. Selebihnya 50, 60… bahkan Pam dan Lulu langganan dapat nilai 45. Apa mereka cinta tahun kemerdekaan?!
Pak Guru akhirnya mencoba menawarkan ulangan yang kedua kalinya. Namun semua anak tidak setuju.
"Nilai kita kan bagus-bagus. Kenapa harus diulang?"
"Habis ulangan ya happy-happy dong…" seru Lina.
Pak Immanuel lalu mencari informasi ke siswa-siswi yang bisa dipercaya. Akhirnya, terbongkarlah rahasia "keberhasilan" siswa-siswi kelas VB yang menghebohkan itu.
Pada hari itu juga Inno dipangggil ke kantor untuk menghadap Pak Immanuel. Ketika ditanya, tanpa bimbang Inno menceritakan bagaimana sampai ia menemukan lembaran soal itu.
Ah, Inno tidak bisa disalahkan. Dia kan, tidak sengaja menemukan lembaran soal itu! Batin Pak Immanuel. Dan Pak Ardi juga tidak salah. Kalau dia lupa, itu kan memang salah satu sifat manusia, pikir Pak Immanuel.
Pada saat pertemua berikutnya, Pak Immanuel mengumumkan bahwa ia sudah tahu soal bocoran soal itu. Dan hasil ulangan kemarin dianggap tidak sah!
"Kalian semua sudah besar. Kesadaran dan kejujuran adalah hal yang utama. Jika tidak jujur, resiko ditanggung sendiri," tekan Pak guru.
"Ulangan keduanya kapan, Pak?" tanya Gun.
"Hari ini juga. Keluarkan selembar kertas kosong," ujar Pak Immanuel enteng.
"Huaaa…" Mereka semua terkejut, bengong, dan saling berpandangan.
"Mimpikah aku hari ini!" Ucap Lulu tanpa sadar sambil mencubit pipinya sendiri

Cerpen Baby Pink

Baby Pink

Sekarang Luna punya adik bayi yang mungil dan cantik. Kulitnya putih, pipinya montok, hidungnya mancung, bibirnya mungil, dan rambutnya lebat. Bunda memberinya nama Istighfarani Helena Laily. Tapi ayah menjulukinya “Baby Pink”, karena sewaktu hamil bunda menyukai warna pink. Baju, kerudung, sandal, bahkan piring makan bunda berwarna pink. Untuk adik bayi, bunda juga membelikan perlengkapan berwarna pink. Mulai bantal-guling, box bayi, perlak, popok, botol susu, baju, topi, hingga kaos kaki, semuanya berwarna pink.

Seminggu ini banyak tamu datang ke rumah untuk melihat Baby Pink. Semuanya membawa oleh-oleh untuknya. Baju, topi, mainan, boneka, gendongan, dan banyak hadiah lainnya.

Sebenarnya Luna menyukai Baby Pink. Tetapi semua orang jadi memuji-mujinya. Baby Pink yang lucu, cantik, dan menggemaskan. Luna jadi iri, Baby Pink jadi pusat perhatian. Luna merasa, tidak ada lagi yang memperhatikannya.

Sebelum Baby Pink lahir, bunda selalu menemani Luna main, mengerjakan PR, mengikat rambutnya, atau menyuapinya. Sekarang bunda sibuk mengurus Baby Pink. Luna ingin bermanja-manja pada bunda, tapi Baby Pink menyita waktu bunda. Luna sebel, ia tidak suka bunda bersama adiknya terus.

“Bunda, adik bayi tinggal sama nenek saja…,” rengek Luna.

“Lho, kenapa? Luna tidak sayang adik?” jawab bunda.

“Pokoknya Luna tidak suka. Luna ingin main sama bunda. Bunda pilih kasih. Bunda sama adik terus. Luna sebel…,” sahut Luna.

“Luna, Luna kan sudah besar. Sudah kelas 2 SD. Bunda harus menjaga adik. Kalau adik pipis, bunda harus ganti popoknya kan? Luna main sendiri dulu ya, nanti kalau sudah selesai, bunda temani. Atau Luna mainnya di sini saja sama adik, anak pinter …”

Luna berlalu tanpa menghiraukan bujukan bunda.

Malam ini ayah membacakan dongeng buat Luna. Ayah membacakan kisah Nabi Musa. Luna gelisah, belum bisa tidur. Sebentar miring ke kanan, sebentar ke kiri. Ayah membetulkan selimutnya dan mengulang cerita sampai Luna tertidur.

Baru sebentar terlelap, Luna merasa ada yang menarik-narik tangannya dan membawanya ke sebuah ruangan. Ruangan itu sangat gelap, seperti gua bawah tanah. Di pojok ruangan ada obor yang apinya bergerak-gerak. Ada banyak orang berpakaian hitam-hitam. Tubuh mereka tinggi besar.

Luna ketakutan, ia tidak bisa bergerak. Kedua tangannya diikat. Luna menangis.

Dinding ruangan bergeser terbuka seperti pintu. Lalu, muncullah seorang pria membawa tongkat berkepala ular. Orang itu memakai mahkota, pakaiannya kuning mengkilap seperti emas.

“Salam hormat tuanku Raja Fir’aun,”

Orang-orang itu membungkuk.

Oh, itu Raja Fir’aun. Luna semakin ketakutan.

“Bawa kotak itu kemari…!” perintah raja.

Seseorang meletakkan kotak hitam di depan raja. Luna sangat takut, lututnya gemetar. Apa isi kotak itu? Jangan-jangan ular-ular kecil yang digunakan untuk menyerang Nabi Musa. Apakah orang-orang ini tukang sihir? Tangis Luna semakin keras.

“Diam…!” bentak raja.

Kemudian kotak dibuka. Luna terkejut melihat isinya.

“Baby Pink…? Kenapa adik ada dalam kotak itu?” Luna tak mengerti.

“Aku tak suka bayi perempuan, buang saja ke laut,” perintah raja.

Luna terkejut. Sementara orang-orang itu membawa Baby Pink pergi. Luna bergerak hendak mengambil adiknya.

“Jangan…jangan…, adikku jangan dibuang ke laut,” teriaknya.

Luna berontak, tapi tangannya terikat.

“Baby Pink…., Adik…, jangan dibawa…,”

Luna terus berontak, menendang-nendang, berteriak sampai nafasnya tersengal-sengal. Orang-orang itu telah membawa Baby Pink.

“Adik…, jangan…!”

Tiba-tiba Luna merasa tubuhnya terguncang-guncang.

“Luna…, Luna…kamu mimpi nak?”

Ketika matanya terbuka, Luna melihat bunda sedang menggendong adiknya.

“Bunda…,” Luna memeluk bunda.

“Kamu mimpi sayang?”

“Luna takut bunda. Adik mau dibuang ke laut sama Raja Fir’aun.”

“Oh, Luna mimpi ketemu Raja Fir’aun. Kan ada Allah, kalau Luna rajin mendo’akan adik, Allah akan menjaga adik.”

“Iya, bunda. Mulai sekarang Luna akan jaga adik. Luna akan do’akan adik.”

Malam itu Luna tidur bersama bunda dan adiknya. Tangannya menggengga

m tangan Baby Pink. Luna ingin menjaga adiknya sampai pagi agar Raja Fir’aun tidak menganggunya lagi. Luna jadi sayang pada Baby pink dan tidak pernah iri lagi padanya.

Cerpen Sepotong Burger

Sepotong Burger

“Nah, Sarah. Sekarang kita sudah sampai. Jangan lupa untuk memasukkan uang yang seribu ke kotak infak nanti.”
“Iya, Ma.” Sarah pun turun dari sepeda motor dan mencium tangan mamanya. Tak lupa Sarah mengucapkan salam dan melambaikan tangannya sebelum memasuki gerbang sekolah.
“Doakan aku menang ya, Ma!”

Di halaman, dua sahabat Sarah telah menunggu. Mereka adalah Norma dan Maryam. Tangan mereka segera melambai saat Sarah masuk ke halaman sekolah.
“Sarah! Ke sini!” Teriak Norma tidak sabar. Sarah pun berlari menuju bangku taman tempat kedua sahabatnya duduk.

“Kamu sudah siap untuk lomba nanti siang?” Tanya Maryam pada Sarah.
“Insyaallah sudah. Semua perlengkapan menggambar telah kubawa. Aku juga sudah punya rencana tentang gambar yang akan kubuat. Sebuah air terjun yang jernih, dengan bau yang besar-besar. Di dekat air terjun itu ada sebuah gubuk kecil yang halamnnya banyak ditumbuhi bunga-bunga.” Jawab Sarah sambil duduk menjajari mereka. Sarah memang terpilih

“Wah, sepertinya akan menjadi gambar yang bagus. Semoga menang, ya.” Sambung Norma dengan mata berbinar.
“Eh, Norma. Lihat itu. Pak Burger datang lagi.” Maryam menunjuk seorang lelaki yang menghentikan gerobak di depan gerbang sekolah. Di dalam gerobak yang terbuat dari kaca, tampak tumpukan burger yang lezat. Di kaca tertempel harga burger Rp. 1500 berwarna kuning.
“Iya, dia datang lagi.” Balas Norma. Sarah yang selama ini belum pernah melihat Pak Burger jadi tertarik.

“Emang kalian pernah beli?”
“Iya. Dua hari yang lalu. Rasanya enak banget.”
“Isinya apa?”
“Ada daging ayam, sosis, selada,dan saus. Ehm…mm pokoknya lezat.” Maryam berkata sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Kelihatannya enak.” Gumam Sarah.
“Kamu pengen beli? Beli sekarang saja. Pak Burger nggak datang setiap hari lo.”
“Iya. Mumpung kita belum masuk kelas. Bisa-bisa Pak Burgernya pergi.”
“Norma, aku pengen ke kamar mandi. Anterin ya?” Maryam memegangi perutnya sambil meringis memandang Norma.
“Ayo. Eh, Sarah kita ke kamar mandi dulu , ya.” Sarah pun mengangguk.

Benar saja. Tak lama setelah kedua temannya pergi, Pak burger tampak menggeser gerobaknya. Sarah pun bingung. Dia ingin sekali merasakan Burger itu. Tapi di tasnya hanya ada uang dua ribu perak. Seribu untuk jajan dan seribu untuk dimasukkan kotak infak yang biasa keliling tiap jum’at pagi sebelum pelajaran dimulai.

Sarah berpikir sejenak. Seulas seyum pun segera menghias wajah mungilnya yang dibalut kerudung putih.
“Aha…! Bukankah aku selalu dapat uang saku setiap hari? Kalau uang infak kupakai beli burger lima ratus, minggu depan aku akan dapat menggantinya dengan uang sakuku.” Sarah pun segera berlari menuju gerbang sekolah.

“Pak Burger! Belii…!” Teriakan Sarah membuat Pak Burger menghentikan gerobaknya.
“Beli berapa, Neng?” Tanya Pak Burger sambil membuka kotak kacanya.
“Satu aja, Pak.” Sarah menyerahkan dua lembar ribuan kepada Pak Burger. Kemudian Pak Burger memberinya sekeping uang logam senilai limaratus rupiah.

“Benar-benar burger yang enak.” Sarah memakan burgernya dengan nikmat. Menggigitnya pelan, mengunyah dengan lembut dan menelannya. Tepat saat memasukkan potongan burger terakhirnya, bel tanda masuk berbunyi. Sarah segera bergegas menuju kelasnya sambil membersihkan sisa burger yang menempel di sudut mulutnya.

* * *
Tee…et! Tee…et! Tee…et!
Waktunya istirahat. Itu artinya Sarah harus menyiapkan alat menggambarya untuk mengikuti lomaba menggambar. Namun sarah tidak melakukan apap-apa. Ia hanya menunduk lesu.
“Sarah. Kamu kan harus segera menuju lapangan sekolah. Semua peserta lomba menggambar sedang bersiap-siap menuju ke sana. Nanti kamu terlambat.” Norma menghampiri bangku Sarah yang terletak dua bangku di belakangnya.

Sarah mendongak sambil meringis.Wajahnya tampak pucat.
“Kamu kenapa?” Tanya Norma cemas.
“Perutku sakit sekali. Kepalaku juga pusing.” sarah kembali meletakkan kepalanya ke meja.
“Maryam, sebaiknya kamu menemui Bu Fatimah dan bilang kalau Sarah sakit. Biar aku menemani Sarah di sini.”

Maryam pun bergegas pergi. Tak lama kemudian, Maryam sudah kembali bersama Bu Fatimah.
“Kenapa Sarah?”
“Perut saya sakit, Bu. Kepala saya pusing.”
“Tadi Sarah makan apa?” Tanya Bu Fatimah.

Sarah diam sejenak. Ia teringat burger lezat yang dimakannya sebelum masuk kelas. Sarah pun sadar bahwa ia merasakan sakit perut dan pusing tak lama setelah makan burger.
“Makan burger, Bu.”
“Kalau begitu Sarah ke ruang UKS dulu ya. Sebentar lagi mamamu akan menjemput. Tadi Ibu sudah menelpon mamamu.” Saran Bu Fatimah dengan lembut.
“Tapi saya harus ke lapangan untk mengikuti lomba, Bu.”
“Saat ini kamu harus istirahat. Kalau memaksa ikut, kamu akan tambah sakit. Jadi sekarang kita ke UKS saja sambil menunggu mamamu datang.”

Sarah tak bisa beruat apa-apa. Dengan lemas, ia mengikuti langkah Bu Fatimah menuju ruang UKS. Sarah benar-benar menyesal telah membeli burger dengan uang yang seharusnya untuk infak. Gara-gara burger itu, Sarah tidak dapat mengikuti lomba menggambar. Perutnya jadi sakit dan kepalanya pusing.Sarah hanya bisa menangis menyesali apa yang telah dia lakukan.

“Nah itu, mamamu sudah datang.” Kata Bu Fatimah sambil menunjuk seorang wanita yangs edang berjalan ke arah mereka.
“Mama..!” teriak Sarah sambil berjalan sedikit cepat.
“Kenapa, Sarah?”
“Ma, maafkan Sarah ya, Ma. Hu…hu….huu…” Sarah memeluk mamanya erat sambil menangis.
“Sarah kenapa? Sarah kan nggak salah apa-apa.” Tanya mama bingung.
“Sarah salah, Ma. Sarah nggak menuruti pesan Mama. Tadi Sarah hanya memasukkan uang lima ratus ke kotak infak. Yang lima ratus Sarah belikan burger. Akhirnya Sarah sakit perut dan pusing. Sarah juga nggak bisa ikut lomba menggambar. Sarah menyesal.”

Tangan Mama memeluk Sarah dengan erat. Kemudian Sarah di ajak duduk di bangku.
“Kalau Sarah sakit setelah makan burger itu, tandanya Allah masih sayang sama Sarah.”
“Mana mungkin Allah masih sayang sama Sarah? Bukankah Sarah tidak patuh pada Mama?” Tanya Sarah tak mengerti.
“Karena Allah tidak ingin Sarah mengulangi perbuatan itu, makanya Allah memberi rasa sakit pada Sarah. Kalau Sarah tidak sakit, pasti Sarah ingin mengulangi lagi perbuatan tadi. Allah ingin Sarah menjadi anak yang baik.”

“Apa Allah mau memaafkan Sarah, Ma?”
“Tentu saja. Asalkan Sarah benar-benar menyesal dan tidak mengulangi perbuatan itu.Dan jangan lupa untuk meminata maaf pada Allah. Sekarang ayo kita pulang.”
Sarah menurut. Ia tak peduli lagi dengan teman-temannya yang sedang mengikuti lomba menggambar. Hari ini Sarah telah mendapatkan pelajaran berharga. Sarah bertekad dalam hati untuk tidak jajan dengan uang infak.

Cerpen Gara-gara mainan rusak

Gara-gara mainan rusak

Pengumuman libur sekolah sudah membuat Oji tak henti-hentinya merengek seraya menggelayut manja di pundak ayah supaya dibelikan mobil balap remote control seperti milik, Eros, tetangga depan rumah. Sebelum tidur dia selalu naik ke pangkuan ayah dan mengingatkan ayah supaya segera membelikan mobil itu. Meski ayah hanya mengiyakan, toh Oji cukup puas lalu masuk ke kamar tidurnya di sebelah kamar tidur ayah.
Di atas tempat tidur dia bergumam tentang mobil itu seraya membayangkan saat dia benar-benar memilikinya. Dia tidak perlu lagi hanya jadi penonton ketika Eros memamerkan keahliannya mengendalikan mobil berantena seukuran Tamiya dengan pengendali jarak jauh. Mobil itu tidak pernah menabrak benda-benda yang dilewatinya meski melaju dengan kencang. Oji dibuat bengong berkali-kali.
Eros dibelikan mainan itu sebagai hadiah karena menjadi ranking satu di sekolah. Kedua orangtuanya sama sekali tak keberatan menghadiahinya mainan mahal tersebut. Salah seorang teman ayah Eros adalah seorang pemilik toko mainan besar. Semua macam mainan tersedia di sana. Mobil yang dikendalikan dari jarak jauh pun ada macam-macam ukuran. Mulai dari sekecil telapak tangan Eros sampai sebesar tas sekolahnya. Tapi Eros tidak suka mobil yang terlalu besar. Tidak lincah seperti mobil yang seukuran Tamiya.
Apapun yang dikatakan Eros saat memamerkan mobilnya, semakin membuat Oji tidak sabar untuk memiliki mobil-mobilannya sendiri. Alangkah menyenangkan jika dia memegang remote control dan menyalip mobil Eros dari belakang. Dia ingin mobilnya melaju jauh lebih kencang dan membuat Eros tidak perlu selalu membanggakan mainannya yang mahal.
Oji memang tidak bisa meraih ranking pertama di sekolah. Prestasinya tidak sebaik Eros. Nilai-nilainya jauh di bawah Eros. Tidak mungkin bisa merebut gelar Eros sebagai juara umum. Bahkan Oji tidak pernah masuk peringkat sepuluh besar. Tapi nilai-nilainya memang sedikit naik. Terutama pelajaran IPA. Dari nilai rata-rata 6, kali ini di buku rapornya tertulis 7.
Ayah Oji senang dengan kemajuan anaknya. Dia ingin memberikan sebuah hadiah kecil, tapi bukan mobil-mobilan seperti yang Oji minta setiap hari. Sudah banyak mainan yang Oji miliki dan tidak pernah lagi disentuh begitu dia punya mainan baru. Dibiarkan teronggok di kamar bermainnya sampai berlapis debu. Oji tidak mau membersihkannya sebelum dipaksa ayah. Itu pun dilakukannya dengan malas-malasan.
Ayah Oji lebih ingin membelikan beberapa buku bacaan. Akan lebih bermanfaat untuk Oji. Hingga kelas 4 SD, Oji masih juga malas membaca. Setiap hari hanya main bersama teman-temannya. Kalau malam dia hanya membuka buku untuk mengerjakan PR.

Hari pertama libur sekolah. Ayah mengajak Oji jalan-jalan berkeliling kota dengan sepeda motor. Pukul sembilan mereka berangkat. Oji terlihat ceria dan membayangkan akan diajak ke toko mainan untuk memilih mainan yang diinginkan. Dalam pikirannya terbayang sebuah mobil balap berwarna hijau seperti pakaian tentara melaju di jalanan aspal dan berkelok-kelok dengan lincah bahkan bisa melambungi mobil hitam Eros.
Oji duduk di depan ayah. Dia memakai helm dan memegang stang dengan kedua tangan. Hatinya semakin berdebar-debar menunggu kecepatan motor perlahan dikurangi kemudian berhenti di sebuah toko mainan. Sesekali dia menolehkan kepalanya ke belakang untuk bercakap-cakap dengan ayah, lalu kemudian kembali memandang lurus ke depan.
Oji melihat sebuah toko mainan di sebelah kiri jalan. Dari jauh dia bisa mengenali toko mainan itu. Di sanalah Eros membeli mobil balapnya. Toko itu terlihat begitu menonjol dibanding toko-toko di sekitarnya. Oji tidak berkedip sampai tidak menyadari toko itu terlewati begitu saja. Dia menarik jaket ayah namun ayah tetap meneruskan perjalanan. Oji terdiam.
Cukup lama mereka berkeliling. Oji tidak lagi berharap ayah mengajaknya ke toko mainan. Semua toko mainan sudah dilewati. Kini mereka memasuki areal penjualan buku. Ternyata di sinilah motor berhenti. Di sebuah tempat parkir yang hampir penuh. Ayah mengajak Oji masuk ke sebuah kios buku kecil yang dijaga seorang ibu berkacamata tebal.
Ayah menyapa ibu itu dan memperkenalkannya pada Oji. Bu Dara namanya. Bu Dara mengambilkan beberapa buku di rak atas lalu meletakkannya di hadapan Oji. Berbagai buku bacaan tentang mobil. Oji bingung mengapa buku-buku itu diperlihatkan padanya. Dia pun bingung buku mana yang bisa membuatnya terhibur sebab tidak dibelikan mainan. Akhirnya dia menunjuk salah satu buku tanpa melihat judulnya.

Seminggu kemudian Oji mendengar suara Eros memanggil-manggilnya dari luar. Oji berpikir apakah akan menemui Eros atau tidak. Dia sedang asyik dengan buku bacaannya. Ternyata buku itu tidak lain ensiklopedia tentang mobil. Semua jenis mobil ada disana. Sampai bagian-bagian dari mobil juga ada.
Suara panggilan Eros semakin mengusik Oji. Dia pun meletakkan bukunya di atas sofa. Dia berjalan menuju pintu dan memutar kunci. Ketika pintu terbuka, dilihatnya Eros berdiri sambil menggendong mobil-mobilannya. Tampaknya mobil itu rusak. Di bagian depannya terlihat ringsek. Eros mengatakan bahwa mobilnya baru saja jatuh.
Oji mengajak Eros masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di lantai. Mobil-mobilan Eros di tengah-tengah keduanya. Oji melihat bagian yang ringsek dengan senter kecilnya. Dia mengambil obeng kecil yang ada dalam kotak peralatan Eros. Dibukanya bagian itu dan melihat ada bagian yang pecah. Dia memperlihatkannya pada Eros. Oji mengatakan bahwa bagian yang rusak itu harus diganti dengan yang baru agar bisa dipakai kembali.
Eros mengangguk-angguk. Dia kagum dengan kepandaian Oji menemukan sumber kerusakan mobilnya. Dia kemudian tahu bahwa Oji membaca dari sebuah ensiklopedi sehingga dia tidak terlihat keluar rumah berhari-hari. Saking tertariknya Eros dengan buku itu, mereka pun menghabiskan waktu seharian membaca buku. Dia mengangguk-angguk setiap mendapatkan ilmu baru. Eros pun lupa dengan mainan kebanggaannya. Dia membiarkan mobil-mobilannya tergeletak di lantai hingga menjelang sore dan dia pun pulang ke rumah.

Cerpen Pengemis dan Putri Raja

Pengemis dan Putri Raja

Tersebutlah seorang putri raja yang cantik jelita. Karena bergelimang
harta, Sang Putri mempunyai sifat buruk. Ia selalu menghambur-
hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Sedangkan Sang Raja
tak pernah menolak kemauan putrinya. Salah satu kegemaran Sang
Putri adalah mengumpulkan perhiasan dari intan permata. Ia sudah
memiliki berlaci-laci perhiasan dari berbagai negeri.

Suatu saat Raja mengajak Sang Putri berkeliling kota. Setelah singgah di berbagai tempat, mereka berhenti di depan bangunan indah. Di depan bangunan itu terdapat air mancur. Sang Putri sangat terpesona dengan air mancur yang elok itu. Air mancur itu memancarkan butir-butir air yang sangat indah. Karena terkena sinar matahari, butiran-butir air itu memancarkan cahaya kemilau bak intan permata. Sang Putri semakin terpesona.

Sepulang dari perjalanan, Sang Putri minta dibuatkan air mancur di depan istana. Raja mengabulkan permintaan itu. Maka berdirilah air mancur nan megah seperti keinginan SangPutri. Bukan main gembiranya Sang Putri. Tiap hari ia memandangi air mancur itu. Suatu hariketika Sang Putri duduk di pinggir air mancur itu, jari manisnya kejatuhan air mancur. Butiranair itu menjalar melingkari jari manis Sang Putri laksana cincin. Begitu tersinari matahari, lingkaran air itu memancarkan cahaya bak cincin permata. Sang Putri berdecak kagum. Ia berlari menemui Sang Raja. "Ayahanda, saya ingin dibuatkan cincin permata dari butiran air,"
pinta Sang Putri. Raja tak kuasa menolak keinginan putrinya. Segera Sang Raja memerintahkan abdi kerajaan mencari ahli permata.

Datanglah seorang ahli permata. Raja lalu menceritakan keinginan putrinya. Sang ahlipermata mendengarkan dengan seksama. "Ampun, Baginda. Hamba baru kali ini mendapatkan permintaan seperti itu. Hamba minta waktu untuk memikirkannya," kata ahli permata. Ia tampak kebingungan. "Kalau begitu, kuberi waktu dua hari. Tapi, kalau gagal,
penjara telah menantimu!" tukas Sang Raja.

Dua hari kemudian, ahli permata itu datang untuk memberitahu bahwa ia tak dapatmemenuhi permintaan Sang Putri. Sesuai perjanjian, ahli permata itu dijebloskan ke penjara.
Kemudian Sang Raja memerintahkan mencari ahli permata lain. Tapi, beberapa ahli permatayang datang ke istana mengalami nasib serupa dengan ahli permata pertama. Raja sudahputus asa. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi demi putri kesayangannya.

Sementara itu, Sang Putri terus menuntut agar permintaannya dikabulkan. Tiba-tiba seorang pengemis tua terbungkuk-bungkuk mendatangi istana. "Kamu ahli permata?" sergah Sang Raja. "Bukan, Baginda. Hamba hanya seorang pengemis. Tapi, mengapa Baginda menanyakan ahli permata?" Si Pengemis balik bertanya. Lalu Sang Raja bercerita tentang keinginan putrinya. "Izinkan hamba mencobanya, Baginda," ujar Si Pengemis kemudian.
"Awas, kalau gagal, penjara tempatmu!" ancam Sang Raja.

Si Pengemis kemudian memanggil Sang Putri. "Tuan Putri, tolong bawa butiran air itu kemari!" pinta Si Pengemis kepada Sang Putri seraya menunjuk air mancur di depan istana.
Sang Putri menuruti saja perintah Si Pengemis karena ia sudah tak sabar memiliki cincinyang diidamkannya. Begitu beradadi sisi air mancur ia menengadahkan tangannya. Sebutirair jatuh tepat di atas telapak tangannya. Cepat-cepat ia bawa butiran itu ke pengemis.
Tapi, sebelum sampai ke pengemis, butiran air itu menguap habis. Sang Putrimengulanginya. Kini ia berlari. Namun apa daya, tetap saja ia tak mampu membawa butiranair. Memang hari itu sedang sangat panas sehingga membuat butiran air cepat menguap.
Dan ini memang siasat Si Pengemis, ia datang pada saat cuaca panas.

"Kalau butiran airnya tidak ada, bagaimana hambabisa mengabulkan permintaan Sang
Putri? Saya kira tak seorang pun mampu membuat cincin kalau bahannya tidak ada. Hambakhawatir Tuan Putri yang cantik dan pintar ini akhirnya mendapat julukan putri bodoh karenamenginginkan sesuatu yang tak ada." Sesudah berkata demikian, Si Pengemis dengan
tenang meninggalkan istana.

Apa yang dikatakan Si Pengemis sangat menyentuh hati Sang Putri. Sang Putri menyadarikekeliruannya. Lalu ia meminta Raja membebaskan semua ahli permata. Seluruh perhiasanintan permata yangdimiliki Sang Putri dibagikan kepada ahli permata sebagai ganti rugi.
Sejak saat itu Sang Putri hidup sederhana dan tidak pernah minta yang bukan-bukan.

Label: , ,

Cerpen Baru

Boneka Lilin


Nina menangis lagi. Sudah seharian ia mengurung diri di kamar. Boneka lilin kesayangan Nina meleleh karena panas. Di ruang tamu Nina terdapat tempat perapian, jadi di waktu dingin, Ibu sering membakar kayu di sana. Dan malapetaka itu terjadi. Tanpa disadari Nina, boneka lilin kesayangannya dekat dengan perapian. Itu merupakan boneka lilin kesayangan Nina. Bentuknya lucu, berhidung panjang mirip Pinokio. Makanya, Nina memberinya nama Pinokio. Selain itu, boneka lilin iu merupakan peninggalan terakhir Ayahnya. Ayah Nina sudah meninggal setahun yang lalu, saat rumah Nina terbakar. Waktu itu Nina dan Ibunya pulang kampung dan hanya ada Ayah sendirian di rumah. Semua patung lilin yang dibuat Ayahnya terbakar dan meleleh. Hanya Pinokiolah yang tersisa dan sekarang juga ikutan meleleh. Hal itu yang membuat Nina sangat sedih. Ibunya sangat cemas, karena anak semata wayangnya belum juga mau keluar untuk mekan malam.

Esok paginya, Nina keluar kamar dengan pakaian sekolah. Badannya sangat lemas, karena kemarin belum makan seharian. Pagi itu, Nina makan dengan murung. Hanya sedikit nasi yang masuk ke dalam perutnya yang kosong melompong. Ibu selalu membujuk Nina agar tidak sedih. Ibu mengatakan akan membelikan boneka lilin yang beru, tapi Nina tak mau karena tak ada boneka lilin sebagus buatan Ayah. Nina prgi sekolah dengan muka yang masam. Teman-temannya sangat bingung melihat sikap Nina. Bukan hanya teman-temannya, Guru-guru yang ada di sekolah juga heran melihat tingkah Nina yang biasanya ceria menjadi murung. Sampai di rumah, Nina langsung memasuki kamar kesayangannya yang diberi cat berwarna biru, karena biru adalah warna kesukaannya. Sewaktu Nina hendak makan ke dapur, baru ia sadari bahwa tak ada seoran pun orang di rumah kecuali dirinya. Nina gak tahu kemana mamanya pergi. Selesai makan, Nina langsung mencudi piring dan meletakkannya di rak piring.

Sewaktu Nita hendak ke kamar mandi, ia melihat gudang dimana Ayahnya membuat boneka lilin. Gudang itu sudah setahun tak dibersihkan Nina. Tanpa pikir panjang, Nina langsung menuju ke gudang tempat Ayahnya mengahbiskan waktu seharian. Nina mendengar suara dari dalam gudang, ia tak tahu suara apa itu. Dengan perlahan, Nina membuka kamar gudang itu dan menghidupkan lampu. Sewaktu Nina menutup pintu dan berbalik, ia sangat kaget malihat boneka lilin yang ada di sana. Nina melihat puluhan bahkan ratusan boneka lilin. Anehnya, mereka tersenyum kepada Nina. Nina seakan bermimpi dan ia mengigau, teryata tidak.

“Si..., siapa kalian?” tanya Nina kaget dan takut.

“Kami boneka lilin yang pernah dibuat oleh Ayahmu,” jawab salah satu boneka lilin yang kecil dan bulan seperti bola.

“Ta..., tapi boneka lilin Ayah semuanya sudah terbakar,” lanjut Nina kaget dan shock.

“Itu benar,” kata boneka lilin yang mirip dengan hewan panda.

“Tapi, kenapa kalian ada disini? Apa yang kalian lakukan?” Nina makin takut. Ia mengira yang ada di depannya adalah hantu.

“Jangan takut, kami adalah boneka lilin yang baik hati. Kami sudah berhutang kepada Ayahmu. Kalau kau ingin tahu kenapa kami hidup lagi, maka ikutlah dengan kami,” sekarang boneka lilin yang berbentuk Jerapah yang bicara kepada Nina.

Pertamanya Nina takut dan ingin segera lari dari sana. Namun, kaki Nina tak mau bergerak malah ingin mengikuti para boneka. Nina terpaksa mengikut saja. Sampailah mereka di depan cermin yang super besar. Cermin itu tak jauh dari tempat Nina berdiri. Ia baru ingat kalau cermin ini pernah dibuat oleh Ayahnya. Nina bingung, kenapa Ayahnya membuat cermin raksasa itu Sang Ayah hanya tersenyum dan mengatakan kalau suatu saat nanti, Nina akan tahu untuk apa cermin itu dibuat. Para boneka lilin sibuk merapatkan sesuatu yang tak diketahui Nina. Setelah selesai rapat, mereka mendekati Nina dan memegang tangan Nina dengan erat. Spontan ia kaget. Boneka lilin yang berbentuk pangeran meminta Nina untuk memejamkan mata. Ia agak sedikit ragu, namun Nina menurut saja. Mereka terus berjalan dan berjalan sampai menembus cermin itu. Setelah tiga langkah mereka berjalan, Para boneka lilin meminta Nina untuk membuka matanya. Saat Nina hendak membuka mata, ia merasa sangat silau. Tempat itu begitu terang. Ini mimpi atau bukan? Nina merasa tempat itu sangat asing baginya. Ia mencoba menggigit lidahnya, mencoba mengatakan kalau ini hanya mimpi. Dan ternyata bukan. Tempat itu begitu indah dan sangat cantik. Seperti surga yang ada di balik cermin. Semua yang ada di tempat itu terbuat dari lilin. Nina melihat berbagai macam boneka lilin dengan aneka bentuk dan warna.

“Tempat apa ini?” kata Nina bingung.

“Inilah tempat kami, Nina,” kata boneka yang berada di pojok belakang. Nina langsung membalikkan badan ke balakang dan memeluk boneka yang bicara kepadanya.

“Pinokio...! kau juga ada disini, aku kangen denganmu. Ternyata kau masih hidup,” teriak Nina senang.

“Iya, Nina. Aku masih hidup. Semua boneka lilin yang meleleh atau terbakar bereikarnasi dan membentuk kehidupan baru di tempat ini, Dunia Lilin,” jelas Pinokio singkat.

“Jadi kau bereinkarnasi disini? Tapi, kenapa semuanya hidup layaknya manusia? Dan kenapa mereka dan kau bisa bicara?” tanya Nina tambah bingung.

“Itu karena kami juga makhluk Tuhan,” jawabnya singkat.

Nina sangat senang dengan kehadiran Pinokio. Pinokio mengajak Nina ke rumah barunya yang dibangun di tepi sungai lilin. Sungai itu terbuat dari lilin cair yang sudah dingin. Di tepi sungai terapat bermacam-macam tumbuhan. Ikan yang ada di dalam sungai juga terbuat dari lilin. Pinokio mengajak Nina berkeliling dunia lilin. Mereka menghabiskan waktu bermain bersama. Nina juga melihat burung yang terbang di langit juga terbuat dari lilin, bahkan batu terkeceil pun juga terbuat dari lilin. Ini ajaib dan sangat aneh. Namun, Nina menikmati keanehan itu dan ia senang. Hari sudah sore dan Nina harus segera pulang. Sebentar lagi ia harus makan malam bersama Ibunya.

“Pinokio, aku harus segera pulang ke rumah. Pasti Ibu sedang cemas memikirkanku. Ia pasti bingung kemana aku pergi,” tutur Nina.

“Oh..., kalau begitu baiklah. Kau akan kuantar sampai di depan cermin,” kata Pinokio.

“Pinokio..., maukah kau ikut denganku ke Dunia Manusia? Aku ingin kita bersama dan selalu bersama,” pinta Nina.

“Maafkan aku, Nina. Bukannya aku tak ingin ikut denganmu, tapi inilah tempatku. Aku sudah mati dan tak bisa ke Dunia Manusia. Kalau aku ke sana, maka dalam kurun waktu 24 jam aku akan meleleh dengan sendirinya dan tak bisa bereinkarnasi lagi,” ucap Pinokio sedikit sedih.

“Lagipula, Nina kan bisa bermain ke sini lagi, jadi kita bisa bertemu lagi,” tambahnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan datang lagi lain waktu,” kata Nina sambil menangis.

Sesampai Nina di depan cermin. Ia memeluk boneka lilin kesayangannya dan pamit kepada boneka lilin lainnya. Nina memejamkan matanya dan berjalan lurus ke arah cermin. Setelah tiga langkah, Nina membuka matanya kembali. Ia melihat ruangan yang tadinya dipenuhi boneka lilin sekarang kosong. Nina langsung menuju ke dapur menengok Ibunya. Ternyata Ibu sedang memasak makanan untuk makan malam. Ibu menoleh dan bertanya kepada Nina, kemana saja anak itu. Nina hanya menjawab kalau ia bermain di gudang belakang tempat Ayahnya membuat boneka lilin. Ibunya sedikit bingung, karena tumben-tumbennya Nina bermain di sana. Nina langsung berlari menuju kamar dan membiarkan Ibunya terdiam untuk beberapa saat.

Label: , ,

Sabtu, 24 Oktober 2009

Welcome To My Bloog~

Welcome To My Bloog~

all about Angelia Gracia' Andrean, With Her Strories X3

thank's for your visit!
Keep your Smile . tag Me ~ love yoou all ♥

-------------------------------------------

Label: